Tampilkan postingan dengan label #Bekerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Bekerja. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

Renungan 1/3 Malam

Di 1/3 malam ini, Minggu 28 Februari 2016, ijinkan saya berbagi pengalaman pribadi saya yang telah merubah kehidupan yang saya jalani.

Dulu, ketika masih bekerja di kantor, saya hanya mengetahui bahwa peluang saya untuk mendapatkan penghasilan hanya 2 kali dalam 1 bulan. Pertama tanggal 10, dari tunjangan transport yang diberikan oleh tempat saya bekerja dan tanggal 25, hari gajian. Di luar itu saya tidak punya petunjuk dari mana lagi saya dapat memperoleh penghasilan.

Sampai suatu ketika, saya mencoba jujur merasakan kegelisahan diri saya. Kegelisahan bahwa sesungguhnya dari waktu yang saya miliki setiap hari, seharusnya saya dapat melakukan sesuatu yang lebih, untuk mendapatkan hasil yang lebih. Kegelisahan ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya saya berani benar-benar jujur mencoba menjawab kegelisahan hati tersebut. Saya kemudian membebaskan imajinasi saya. Semua imajinasi yang pernah terbentuk tentang bagaimana diri ini ingin bekerja, saya panggil kembali, saya munculkan dalam teater pikiran saya.

Muncullah gambaran tentang diri yang berada di rumah, mengurus rumah tangga bersama istri dan anak-anak. Menghabiskan waktu secara penuh untuk mendidik, dan merawat seluruh anggota keluarga, menikmati hidup yang berlandaskan agama Islam. Segera hadir di Masjid ketika seruan adzan berkumandang. Semua gambaran itu dapat saya lihat dengan jelas di dalam teater pikiran saya. Somehow, saya tidak tahu bagaimana cara untuk mewujudkannya, sampai suatu ketika Allah mengirimkan jawabannya.



Hari ini, saya mencoba melihat lagi perjalanan hidup saya, dan saya sampai pada satu titik penuh keyakinan bahwa saya bisa meraih lebih daripada yang sebelumnya. Alhamdulillah. Ternyata belenggu terbesar ada dalam diri, terutama pada pikiran kita. Lepaskan belenggu itu dan bersiaplah untuk melompat lebih tinggi. Hari ini saya bisa mendapat penghasilan sebagaimana saya perlukan.

Tak ada hal lain yang bisa saya ucap, selain alhamdulillah.

Salam.


HashOcean

Selasa, 26 Januari 2016

Tantangan dan Godaan Bekerja Di Rumah

Bagi yang belum pernah merasakan tantangan dan godaan bekerja di rumah, pada kesempatan ini ijinkan saya berbagi kepada para pembaca.

Setiap pilihan yang diambil dalam hidup selalu menghadirkan konsekuensi. Kita semua harus menyadari dan menerima hal itu tanpa kecuali. Demikian juga dengan keputusan bekerja di rumah, tentu ada konsekuensi berupa tantangan dan godaan.
Apa sajakah itu?

  1. Bekerja di rumah, bukan berarti Anda bisa bekerja seenaknya. Profesionalitas dalam bekerja tetap dituntut dalam hal ini, namun semua itu bukan karena tuntutan BOS, melainkan tuntutan diri sendiri. Nah, tantangan nomor satu untuk membangun profesionalitas adalah karena kita berada di rumah, maka urusan-urusan domestik bisa jadi mewarnai waktu kerja kita. Jangan sedih dulu, karena disitu keindahannya. Anda bisa tetap membantu istri memandikan anak, sembari mengirim email berisi tugas yang sudah Anda kerjakan.
  2. Anak yang minta ditemani bermain. Ya, ini adalah salah satu godaannya. Di saat anak kita sudah mandi, rapi dan wangi. Kita meletakkan dirinya di area tempat dia biasa bermain dengan harapan dia anteng main sendiri. Tapi kenyataannya tidak selalu demikian. Dia pun dapat merajuk kepada kita, minta ditemani bermain. Nah kalau sudah begini, peluang Anda bisa bekerja dengan 'benar' adalah ketika anak kita jatuh tertidur. Atau kita minta ijin kepada istri untuk bekerja di luar rumah.
  3. Suasana rumah yang nyaman, bisa jadi menimbulkan serangan kantuk yang kuat dan cepat di pagi hari yang dingin. Kalau sudah demikian, saran saya jangan dilawan. Tidurlah dahulu, toh tak ada BOS yang akan memarahi Anda karena tidur di rumah Anda sendiri kan? ^_^
  4. Membangun komunikasi dan kerjasama dengan pasangan, agar kita dapat mengenali ritme kerja masing-masing, sehingga sinergi dalam menyelesaikan seluruh tugas-tugas domestik di rumah. Kalau sudah menemukan ritme ini, saya jamin produktivitas Anda ngacirrr!

Sementara itu dulu, 4 tantangan dan godaan bekerja di rumah.

Sesungguhnya ini adalh 4 tantangan dan godaan yang paling menyenangkan yang pernah saya temui selama ini.

Salam!


Rabu, 20 Januari 2016

Bekerja dengan Otak Kanan, Bekerja yang Menyenangkan

Tulisan ini pertama kali saya tayangkan di KOMPASIANA, pada tanggal 26 Februari 2015. Hari ini saya mencoba membaca ulang dan menambahkan beberapa hal sebagai pemutakhiran.

Dari data Badan Pusat Statistik Januari tahun 2012, jumlah Pengusaha di Indonesia hanya 3,75 juta jiwa. Sedangkan jumlah Pegawai Negeri Sipil di Indonesia pada tahun 2012 4,4 juta jiwa, belum ditambah dengan jumlah Pegawai di sektor swasta yang kurang lebih sama jumlahnya.

Dari data ini Penulis melihat potensi orang mengeluh karena pekerjaannya minimal 2x lebih banyak dibandingkan dengan Pengusaha.


Pernahkah para pembaca mendengar keluhan dari teman-teman yang bekerja, baik di sektor pemerintah maupun swasta, mengeluh atas kejenuhan yang dihadapi di pekerjaan mereka. Tentu pernah, bahkan sering bukan? Penulis juga seringkali memperhatikan teman-teman yang tidak mengalami ketidakpuasan dalam pekerjaan yang sedang mereka jalani saat ini. Ekspresi yang muncul berupa keluhan, baik secara lisan maupun tulisan bertebaran di akun pribadi media sosial mereka.

Nah kalau sudah begini, apakah masih bisa diperbaiki?

Jawabannya tentu bisa. Menurut Penulis, orang-orang yang bekerja di kantor, baik di sektor pemerintah maupun swasta, mereka dominan menggunakan otak kirinya. Padahal semua otak manusia diciptakan Tuhan dengan 2 hemisfer yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang khas. Dominan menggunakan otak kiri, seringkali membuat manusia terjebak dalam rutinitas harian, tidak mengetahui jalan keluar yang berbeda dari rutinitas yang biasa di hadapi. Mereka merasa aman dengan hal itu, meski seringkali merasa tidak puas dengan hasil yang mereka capai. Setelah mengeluh, mereka tetap setia dengan kebiasaan yang mereka lakukan.

Berbeda dengan orang-orang yang dominan menggunakan otak kanannya, mereka biasanya memiliki cara kerja yang dinamis, dan jauh dari yang namanya rutin-monoton. Mereka cenderung suka untuk menetapkan tantangan baru, jika tantangan yang lama sudah berhasil mereka atasi. Hal ini tentu membuat grafik pencapaian mereka meningkat dari waktu ke waktu.


Apa sesungguhnya problem yang dihadapi oleh para pekerja dominan otak kiri? Mereka terbiasa untuk bekerja dengan target yang telah ditetapkan oleh atasannya, tanpa itu mereka seringkali mengalami kesulitan untuk menampilkan unjuk kerja yang optimal karena energinya terpakai tanpa arah. Dalam keseharian di pekerjaan mereka seringkali merasa terjebak dan tidak punya pilihan, sehingga harus tetap bertahan untuk bekerja meskipun sesungguhnya mereka sudah merasa jenuh atau tidak bahagia.

Sebaliknya, orang-orang yang terbiasa mengoptimalkan otak kanannya akan menikmati setiap proses pekerjaannya, karena mereka sadar bahwa usaha yang mereka lakukan merupakan pilihan sadar yang muncul dari dalam hati sanubari, bukan sekedar instruksi dari atasan. Hal tersebut bisa dilihat dari ekspresi, kegiatan dan kegembiraan yang terpancar dari wajah lelah mereka.



Sudahkah Anda mengoptimalkan kerja otak kanan Anda? Jika belum, tidak ada salah Anda coba. Selamat mencoba!













Salam!



Rabu, 13 Januari 2016

Ketika Ayah Memutuskan Bekerja Di Rumah

Sebagai Ayah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya sering merasa terganggu ketika sedang konsentrasi bekerja, tiba-tiba mendapat SMS atau telpon dari rumah yang menginformasikan bahwa telah terjadi sesuatu di rumah, entah berkaitan dengan kondisi rumah atau berkaitan dengan kondisi anak kita yang sedang sakit misalnya. SMS atau telpon yang tiba-tiba itu membuyarkan ritme kerja dan konsentrasi yang telah terbentuk sejak pagi. Saya percaya, diantara para pembaca pun mungkin ada yang merasakan demikian.

Salah satu role model saya adalah pasangan Bapak Habibie & (Almh) Ibu Ainun. Saya merasa iri dengan beliau, karena di sebuah buku Bu Ainun menyatakan bahwa beliau memberi ruang yang penuh bagi Bapak (Habibie) untuk bekerja. Ibu Ainun tidak ingin urusan di rumah mengganggu konsentrasi kerja Bapak (Habibie) di kantor, dengan demikian beliau berusaha untuk menangani semua urusan di rumah. Setelah membaca kisah itu, saya pun berkhayal... ah seandainya saja istriku dapat melakukan hal yang sama seperti yang Ibu Ainun lakukan untuk Bapak Habibie. Syukur alhamdulillah... kenyataan yang saya hadapi tidaklah demikian. ^_^

Jika ada sesuatu terjadi di rumah, istri saya selalu memberitahu baik via SMS maupun telpon. Konsentrasi kerja saya pun buyar dibuatnya. Namun demikian situasi inilah yang kemudian mendorong saya untuk belajar dan berpikir mencari solusi agar saya tidak mengalami kembali hal yang sama di masa yang akan datang. Pencarian itu berlangsung dalam alam bawah sadar saya, sampai akhirnya sampailah pada 'AHA!'
Muncul ide bahwa saya bisa bekerja dari rumah.
Di luar sana sudah banyak orang melakukan hal seperti ini. Mengapa saya tidak melakukannya sendiri. Namun demikian hati kecil saya masih menyimpan sedikit keraguan,
"Benarkah hal ini dapat saya lakukan?"


Dari proses pencarian, riset, ujicoba yang saya lakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah tahun terakhir, akhirnya saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara untuk mendapatkan penghasilan dengan memanfaatkan koneksi internet, media sosial, blog dan youtube.

Saya harus mempelajari semua hal tersebut di awal, karena saya benar-benar awam. Setelah pengetahuan yang saya dapat sudah memadai, langkah selanjutnya adalah mengambil keputusan untuk mencoba, keberanian untuk mengambil tindakan. Tanpa itu, mustahil saya mendapat hasil sebagaimana yang saya raih saat ini.

Perlahan-lahan keraguan saya semakin sirna, karena saya dipertemukan dengan sekelompok orang yang ternyata memiliki pemikiran yang sama dengan saya. Mereka adalah orang-orang yang merasakan 'kegalauan' sebagaimana yang juga saya rasakan, kemudian mereka berani mengambil keputusan untuk bertindak melakukan sebuah cara yang berbeda dari yang biasa selalu mereka lakukan. Perasaan 'galau' ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya, orang Indonesia, melainkan juga orang-orang dari belahan dunia yang lain. Kami pun berkesempatan untuk berbagi cerita melalui media skype. Rasanya bahagia menemukan orang-orang yang memiliki cara berpikir yang sama, walau saat ini jumlah mereka relatif masih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang-orang yang berpikir 'mainstream'.

Ketika berada di rumah, saya pun harus beradaptasi. Berbagi peran dengan istri saya untuk melakukan tugas-tugas domestik. Mulai dari menyapu lantai, mengepel, mengganti galon air yang kosong, menguras bak mandi yang kotor, menyuapi anak, memandikan anak, menemani anak bermain, menemani anak tidur siang, mencuci-bilas dan menjemur pakaian, sampai memandikan anak di sore hari, memberi makan malam, dan kemudian mengantar anak untuk tidur.

Dari sinilah saya mendapatkan penghayatan bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga itu demikian berat, mengerjakan segala sesuatu di rumah seorang diri manakala sang suami bekerja di luar rumah (kantor) amatlah menguras energi fisik dan psikisnya. Tak jarang para istri kita yang full ibu rumah tangga, tidak menemukan slot waktu untuk sekedar beristirahat sejenak. Apalagi para ibu yang juga bekerja, saya percaya otak mereka bekerja dua kali lebih keras karena harus memikirkan beberapa hal secara sekaligus, baik urusan kantor maupun urusan rumah. Hal ini kemudian yang harus dipahami juga oleh para suami agar tidak salah dalam bersikap terhadap istrinya.

Walau demikian, saya amat terbantu dengan kepribadian yang saya miliki. Saya selalu dapat menemukan cara yang menyenangkan ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik tersebut. Sehingga akhirnya saya pun dapat menikmati seluruh rutinitas yang ada di rumah.



Kenikmatan yang paling saya syukuri saat ini adalah kesempatan untuk ada, bersama anak-anak saya, melihat mereka bertumbuh dan berkembang, menemani mereka mulai dari bangun pagi hingga tidur di malam hari. Dengan pilihan ini saya merasa bahwa kualitas hidup saya semakin meningkat, perasaan saya semakin bahagia, keimanan saya semakin meningkat, dan hubungan saya dengan istri semakin harmonis dan berkualitas.

Alhamdulillah, nikmat mana lagi yang aku dustakan...

Salam!



Senin, 11 Januari 2016

Si Dua Tahun Yang Menggemaskan

Memperhatikan tumbuh kembang anak ke-dua saya, Dz, sungguh amat mempesona.
Dz sekarang berusia 2 tahun 4 bulan.
Dalam kurun 1 bulan terakhir saya melihat beberapa perkembangan dalam dirinya yang cukup signifikan.
Apa sajakah itu?
  1. Trust / Kepercayaan diri terhadap orang lain atau lingkungan
    Saat ini Dz sudah lebih merasa aman terhadap keberadaan orang tua maupun orang lain di sekitarnya. Dulu pada saat masih berusia 1 tahun-an, Dz masih suka menangis jika bertemu orang baru, atau minimal selalu menyembunyikan kepala di balik tubuh ayah atau ibunya.
    Sekarang Dz tumbuh sebagai sosok anak yang ramah dengan lingkungannya, berani mendekati orang lain, dan bahkan menyapa dengan panggilan, "Kakek/Nenek, Ayah, Kakak bahkan Bayi." Perkembangan ini tentu sangat syukuri.
  2. Bahasa.
    Saat ini Dz berada pada fase sangat mudah meniru kata-kata yang diucapkan orang lain, seperti kata, "aduh, mau, mamah (makan), mimi (minum), bahaya, ai (air), jatuh, ketawa, dan lain sebagainya.
    Tak jarang ia menonton video iklan susu di youtube, memutar ulang dan meniru kata-katanya secara mandiri.
  3. Motorik
    Setelah melalui fase selalu ingin memanjat kursi maupun tangga, sekarang Dz berada pada fase gerakan yang lebih bisa diarahkan. Dia dapat mengikuti ajakan saya untuk berjalan keliling komplek, ke kamar mandi, atau sekedar berpindah dari lantai dasar ke lantai atas. Saat ini dia sedang suka mengetuk-ngetuk sapu lidi ke lantai, walhasil kemana pun dia pergi sapu lidi yang dia sebut 'bibi' ini tidak pernah lepas dari tangannya.

  4. Otonomi
    Saat ini Dz pun sudah mulai menampakkan kemandirian, salah satu yang nampak adalah dia dapat secara sukarela pergi tidur jika sudah merasa lelah bermain. Dalam hal bermain pun kini Dz sudah mampu menunjukkan minat dan keasyikan tersendiri terhadap permainan yang ia sukai, seperti bermain lidi, bermain lego, main kereta, dan nonton video pendek di youtube.

Dapat melihat proses tumbuh kembang anak, merupakan sebuah anugerah tersendiri bagi ayah seperti saya. Jika sebelumnya saya hanya mendapat informasi dari sang ibu, karena harus bekerja di kantor. Kini saya dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saya bersyukur karena telah mengambil keputusan untuk menjadi ayah penuh waktu dan berkontribusi secara nyata dalam proses tumbuh kembang anak-anak saya.

Semoga pengalaman ini dapat dialami oleh para ayah yang lain.

Salam!


Minggu, 10 Januari 2016

Mengapa Akhirnya Saya Memutuskan Bekerja Dari Rumah



Tulisan ini murni dibuat bukan untuk menyindir siapapun.
Tulisan ini saya buat murni sebagai refleksi diri dan ingin berbagi dengan pembaca.
Mohon maaf bila kurang berkenan.

Anda bisa lihat komik strip di atas.
Pada umumnya demikianlah yang terjadi.
Ayah pergi bekerja, ibu tinggal mengurus anak-anak di rumah.
Atau Ayah dan ibu pergi bekerja, anak-anak dititipkan kepada 'orang rumah'.
'Orang rumah' disini bisa mengacu pada asisten rumah tangga, paman/bibi, atau bahkan orang tua/mertua kita.
Saya pribadi tidak menyukai pilihan menitipkan anak-anak kepada orang tua/mertua.
Alhamdulillah istri saya cukup berani memutuskan untuk melepaskan pekerjaan dan mengurus anak ketika Dz lahir 2 tahun yang lalu.
Saya pun masih bekerja, dengan posisi dan jabatan yang cukup baik saat itu.
Namun dalam perjalanan waktu saya merasa ada yang kurang.
Saya mendapati bahwa istri saya bukanlah superwoman, yang bisa urus seluruh urusan rumah dan anak-anak seorang diri.
Sebagai suami pun saya merasa pusing ketika di tengah asyik bekerja mendapat informasi ada 'masalah' di rumah.
Berdasarkan pengalaman itu, akhirnya saya mencari cara bekerja yang berbeda.
Sebuah keputusan yang cukup pelik, mengingat ini adalah sesuatu yang sama sekali baru, baik bagi saya yang menjalaninya dan bagi istri yang dididik dan dibesarkan dalam keluarga pekerja.
Tidak mudah pada awalnya karena saya harus meyakinkan pasangan saya.
Beruntung saya memiliki pasangan yang mau mengerti dan memahami keputusan.
Sekarang sudah 9 hari kami menjalani keputusan ini, terus terang saya merasakan banyak manfaat bagi kehidupan keluarga kami.
Saya merasa kualitas hidup saya meningkat, komunikasi dengan pasangan semakin terbuka dan sehat, hubungan dengan anak-anak pun semakin dekat, karena saya punya kesempatan untuk mendampingi mereka setiap saat.
Sekali lagi, mungkin ini bukan sebuah keputusan yang sesuai untuk semua pembaca.
Namun percayalah bahwa bekerja dari rumah sangat menyenangkan.

Salam!

  HashOcean

Jumat, 08 Januari 2016

Kerja Kok Nggak Di Kantor


Mungkin pertanyaan gagap itu pernah muncul di benak Anda begitu melihat seseorang yang tidak terlihat pergi ke kantor, namun dapat hidup dan memenuhi segala kebutuhannya. Tenang… Dia tidak sedang memelihara tuyul kok. Itu cuma mitos yang tidak jelas kebenarannya.

Jangan salah menduga dan berprasangka negatif terlebih dahulu. Ini semua mungkin terjadi sejak digital startup mulai menggeliat. Apa itu digital startup? Digital startup adalah istilah yang digunakan oleh perusahaan-perusahaan baru yang memanfaatkan teknologi digital untuk tumbuh dan berkembang.

Karakteristik digital startup antara lain: usia perusahaan rata-rata masih di bawah 3 tahun, jumlah karyawan kurang dari 20 orang, pendapatan kurang dari $100.000 per tahun, masih dalam tahap berkembang, umumnya bergerak di bidang teknologi informasi, produk yang dibuat berupa aplikasi dalam bentuk digital, dan biasanya beroperasi melalui website. Digital startup menurut catatan mulai berkembang di dunia sejak tahun 1990 hingga tahun 2000-an. Namun mulai terasa berkembang di Indonesia sejak tahun 2011.

Jadi, kerja di mana, kalau tidak di kantor? Mungkin itu pertanyaan Anda?
Sejak tahun 2011, muncul yang namanya co-working space, yang diinisiasi oleh Bandung Digital Valley/BDV, pada bulan Desember 2011. BDV adalah co-working space gratis pertama yang diluncurkan oleh Telkom, berlokasi di R&D Center milik Telkom. Tempat ini memiliki luas 1200 meter persegi, dan Telkom mengizinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space atau tempat bekerja bersama.

BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya.
Itu hanyalah salah satu co-working space yang ada di Indonesia. Sekarang jumlahnya bejibun. Banyak bermunculan layaknya cendawan di musim hujan, terutama di kota-kota besar. Untuk bekerja di sebuah co-working space, masing-masing provider co-working space akan mengeluarkan kebijakan tentang biaya sewa, baik itu per-jam, bulanan maupun tahunan. Bahkan ada istilah member dan non-member. Anda bisa memilih sesuai kebutuhan.

Fasilitas yang disediakan oleh sebuah co-working space sangat memadai, antara lain: koneksi internet kecepatan tinggi, ruangan meeting, locker pribadi, printer, scanner, mesin fotokopi, peralatan kantor, toilet, dapur, hingga minuman. Sadar atau tidak, sesungguhnya saat ini seseorang bisa mengoptimalkan dirinya, berkarya hanya dengan mengandalkan sebuah ruang yang memiliki koneksi internet, stop kontak listrik, meja dan kursi untuk bekerja. Koneksi internet membuatnya terhubung dengan rekan-rekan kerja di seluruh dunia.

Saya melihat beberapa tahun ke depan, kebutuhan untuk berpindah dari rumah menuju kantor dan sebaliknya akan menjadi berkurang, karena setiap orang bisa bekerja dari rumah masing-masing. Jika hal ini terjadi maka akan terjadi penghematan di segala lini, terutama kebutuhan akan bahan bakar minyak. Indeks kebahagiaan kita pun akan meningkat, karena waktu yang dihabiskan bersama keluarga akan jauh lebih banyak. Tingkat kemakmuran pun akan meningkat karena bekerja melalui internet pun menjanjikan penghasilan yang tidak sedikit.

Jadi, sangat mungkin seseorang bekerja tidak di kantor, karena saat ini sudah bertebaran yang namanya co-working space. Mungkin sudah waktunya anda mencoba melakukan sesuatu yang berbeda, untuk meraih hasil yang lebih baik lagi.
Salam!

Referensi: http://rismadyarp.blogspot.co.id/2015/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Artikel ini telah disunting. Artikel asli dapat dibaca di http://www.kompasiana.com/masjawski/kerja-kok-gak-di-kantor_568c2e173dafbdff1648a062


Rabu, 06 Januari 2016

Awal Mula Datang Ke Bandung

Menceritakan tentang perkembangan anak sendiri, memang suatu hal yang menyenangkan bagi orang tua. Bukan bermaksud untuk sombong atau pamer. Saya hanya ingin sekedar berbagi penghayatan saya sebagai ayah mengamati perkembangan buah hatinya.

Sebelum saya bercerita, saya akan memperkenalkan diri terlebih dahulu agar pembaca semakin nyaman membaca blog saya ini.

Nama lengkap saya, Wijanarko Dwi Utomo. Saya lahir dan besar di kota Jember, Propinsi Jawa Timur. Jember terkenal dengan sebutan kota santri melalui salah satu lagu Mas Anang Hermansyah. ^_^

Saya adalah anak ke dua dari tiga bersaudara dari pasangan orang tua yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu institusi keuangan. Kondisi keuangan keluarga saya ketika itu bisa dibilang cukup baik.

Tumbuh dan berkembang dalam bimbingan orang tua yang keduanya bekerja, tentu memberikan kesan dan penghayatan tersendiri bagi saya tentang apa itu bekerja. Apa itu kerja keras. Apa itu menunda kesenangan untuk mencapai sebuah tujuan. Saya merasa tidak ada kesulitan yang berarti ketika saya melalui tahap demi tahap perkembangan dalam kehidupan saya. Mungkin karena saya tumbuh besar di era orde baru yang segalanya serba 'teratur'. Jadi sebagai anak pun saya tinggal mengikuti saja.

Saya berhasil menempuh pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas di kota Jember. Baru kemudian pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi tingkat perguruan tinggi. Saya mengambil jurusan Psikologi, di Universitas Padjadjaran (UNPAD).

Terus terang saya tidak terlalu paham dengan isi jurusan ini pada awalnya. Saya hanya tahu bahwa tempat kuliahnya berada di Bandung (padahal Jatinangor, Sumedang). Dari sebuah buklet informasi tentang perguruan tinggi dari majalah HAI, saya hanya tahu bahwa jurusan Psikologi UNPAD menerima mahasiswa dari SMA jurusan IPA. Saya mengambil jurusan IPA di bangku SMA. Jadi cocok, mungkin bisa diterima.



Motivasi saya terbesar ketika hendak kuliah di Fakultas Psikologi UNPAD adalah karena UNPAD berada di kota Bandung. Kota Bandung adalah sebuah kota memberi kesan mendalam di masa remaja saya, karena ketika duduk di kelas 1 SMA, saya menjadi anggota tim paduan suara SMASA dan mengikuti Festival Paduan Suara (FPS) ITB ke XIV tahun 1994. Ketika itu, kegiatan FPS ITB merupakan salah satu kegiatan akbar yang selalu ingin diikuti oleh tim paduan suara SMASA. Kegiatan ini diselenggarakan dua tahun sekali. Tim saya tidak menang ketika itu, namun saya mendapat kesempatan untuk mengenal dekat kota Bandung.


2 tahun berikutnya, tahun 1996, saya menjadi pemimpin rombongan tim paduan suara SMASA mengikuti FPS ITB ke XV di Bandung. Pengalaman ini semakin menguatkan ikatan batin saya dengan kota Bandung. Seperti kata Pidi Baiq di akun tumbler-nya yang berbunyi, "Dan Bandung, Bagiku, bukan cuma masalah geografis. Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan."



Jadilah saya diterima di Fakultas Psikologi UNPAD, melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun 1997. Dari situlah saya kemudian belajar lebih dalam tentang ilmu Psikologi. Di sebuah kampus yang berdiri di atas tanah merah, dengan kontur berbukit-bukit, di kawasan pendidikan Jatinangor.

Demikian kisah awal mula saya datang ke Bandung.

Bandung adalah tanah harapan bagi saya. ^_^


Selasa, 05 Januari 2016

Pengantar "Ayah Penuh Waktu"


Ini adalah tulisan perdana untuk mengisi blog yang saya beri judul "Ayah Penuh Waktu".

Ada apa dengan "Ayah Penuh Waktu"?

Seperti kita ketahui di dunia para Ayah, sudah menjadi kewajiban baginya untuk keluar rumah mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Sebagai Ayah, saya pribadi sudah menjalankan peran tersebut selama kurun waktu 9 tahun terakhir dan terus berjalan.

Saya pribadi sudah merasakan beberapa situasi sebagai Ayah yang bekerja mencari nafkah, mulai dari bekerja di luar kota, bekerja di luar pulau, sampai akhirnya bekerja di kota yang sama dengan tempat tinggal keluarga.

Buat sebagian besar orang, mendapat kesempatan menemukan ladang rizki yang tidak jauh dari rumah adalah sebuah kesyukuran. Alhamdulillah saya pun merasa demikian. Ada beberapa manfaat yang saya rasakan dengan bekerja dekat dengan rumah, antara lain: saya masih sempat mengantar anak pergi sekolah sebelum bekerja, waktu perjalanan dari rumah ke kantor dan sebaliknya hanya makan waktu kurang lebih 30 menit. Namun seiring dengan berjalannya waktu, memasuki tahun ke-4 masa kerja, saya mulai merasa gelisah. Gelisah dengan pola kerja / rutinitas yang telah terbentuk, gelisah dengan tantangan kerja yang sudah tidak lagi menarik. Ditambah dengan perasaan bersalah ketika tidak mampu hadir di dalam keluarga pada saat mereka membutuhkan karena tuntutan pekerjaan.

Maka dalam lubuk hati saya yang paling dalam pun tercetus cita-cita ingin menjadi seorang Ayah Penuh Waktu. Apa itu Ayah Penuh Waktu yang saya maksud? Ayah Penuh Waktu adalah Ayah yang mampu selalu berada dekat dengan keluarganya dan mampu memenuhi segala kebutuhan hidup keluarganya tanpa kekurangan satu apapun. Sungguh sebuah cita-cita yang mulia, cita-cita yang tidak dapat saya bayangkan bagaimana cara mewujudkannya pada awalnya.

Namun, keindahan dari sebuah cita-cita seseorang adalah sekali ia terpikir, terucap dan tersimpan dalam hati sanubari, langit seolah-olah akan mencatat dan seiring ikhtiar yang dilakukan seseorang dalam perjalanan waktu, perlahan-lahan Allah akan menunjukkan jawaban-NYA.

Bagi para Ayah yang terjebak dalam rutinitas pekerjaan, perlombaan tikus atau terjebak dalam situasi pekerjaan yang kurang sesuai dengan aspirasi diri, jangan pernah berkecil hati. Tetaplah berusaha positif karena yakinlah bahwa selalu ada jalan keluar sepanjang kita mau berusaha.

Demikian pengantar blog perdana dari saya.

Ikuti kisah-kisah selanjutnya.

Selamat membaca!

Salam!


  HashOcean