Tampilkan postingan dengan label #Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2016

Menginspirasi Cita-cita Anak

Pagi ini saya teringat dengan beberapa hal yang terjadi di masa SMA. Ada suatu saat dimana saya ingin sekali mendaftarkan diri dalam program beasiswa sekolah yang diberikan oleh Nanyang University Singapura. Saya melihat pengumuman tentang beasiswa itu dari Harian Kompas yang memang sudah menjadi koran langganan di keluarga kami. Dari beberapa persyaratan yang ada, saya fokus pada hal yang bernama Curiculum Vitae (CV). Sampai hari itu saya masih awam dengan CV, bentuknya seperti apa, isinya seperti apa, saya tidak tahu. Tantangan berikutnya saya harus membuat CV dalam bahasa Inggris.

Saat itu yang saya lakukan adalah mencoba menghubungi guru Bahasa Inggris saya dan bertanya kepada beliau bagaimana caranya membuat CV. Alhamdulillah beliau membantu, CV berhasil dibuat, namun pada akhirnya saya tidak tahu apakah surat pengajuan beasiswa diterima atau tidak, yang saya tahu saya tidak kuliah di Nanyang University. ^_^

Hal yang menarik untuk digali adalah apa yang membuat saya, anak Jember yang buta wawasan tentang luar negeri, berani mengajukan permohonan beasiswa ke Nanyang University dengan hanya berbekal informasi di sebuah Harian Kompas. Saya tidak pernah dibimbing secara khusus untuk itu, namun Ayah saya sering menasehati, "Ayo nak sekolah yang tinggi, S2, beasiswa, kalau bisa ke luar negeri." Kalimat itu sering terucap berulang-ulang dan bisa jadi kalimat itu kemudian menetap di alam bawah sadar saya, sehingga secara tidak sadar pun saya mencari jalan menuju ke sana.

Harian Kompas ketika itu adalah jendela informasi bagi saya untuk melihat dunia. Saya tinggal di Jember, sebuah kota administratif di Jawa Timur ketika itu. Saluran televisi hanya satu, TVRI. Siaran radio yang utama hanya RRI. Harian Kompas mampu memberikan update apa yang sedang terjadi di luar sana, baik skala nasional, regional maupun international. Tanpa Harian Kompas, saya tidak tahu, gambaran saya tentang cita-cita di masa depan akan seperti apa.

Sekarang kita hidup di era yang serba terbuka, informasi mengalir deras dalam genggaman. Menurut saya ini saat yang mudah untuk menginspirasi anak-anak kita, walaupun juga bisa menjadi sulit di saat yang bersamaan mengingat konsekuensi dari keterbukaan informasi juga lumayan berat. Namun saya mencoba untuk lebih fokus mengambil sisi positif dari keterbukaan informasi ini.

Anak-anak saya akan lebih mudah untuk mengakses sebuah bidang ilmu yang dia minati. Sebagai contoh, saya sering memperhatikan kakak Dvn suka berekspresi dengan suara-suara di mulutnya, ternyata saya ketahui kemudian dia ada minat dalam melakukan human beat box. Untuk mempelajari hal itu dengan mudah ia mencari referensi di youtube. Voila, dalam waktu singkat dia bisa jadi sudah menguasai keterampilannya.

Youtube memberikan akses untuk belajar dengan cara melihat dan mendengar langsung sebuah hal dilakukan. Sama seperti metode pembelajaran praktikum ketika sekolah dulu. Bedanya dulu di sekolah mata waktu dan subjek mata pelajarannya terbatas, sekarang subjek dan waktu belajar 24 jam sepanjang ada koneksi wifi. ^_^

Jangan sia-siakan perkembangan teknologi yang demikian canggih seperti ini, manfaatkan dia untuk memberi inspirasi kepada anak-anak kita agar menjadi pribadi yang bermanfaat kelak bila mereka dewasa nanti.

Salam!




HashOcean

Senin, 07 Maret 2016

Nama Anak Adalah Doa

Nama anak adalah doa yang terucap di mulut orang tuanya menitipkan harapan kepada sang Maha Pencipta.

Alhamdulillah, sampai saat ini saya dipercaya oleh Allah SWT untuk merawat dan mendidik 3 anak laki-laki yang memiliki karakter dan keunikannya masing-masing.

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang arti nama anak-anak saya dan latar belakang situasi yang sedang saya alami saat itu.

Anak sulung, saat ini usianya 8 tahun, nama lengkapnya Devan Aditya Ramadhan. Saya biasa menulis inisial namanya dengan Dvn. Dia lahir beberapa hari sebelum bulan Ramadhan tiba di tahun 2007. Ketika Dvn lahir, saya bekerja di sebuah perusahaan manufakturing komponen otomotif di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kebetulan Dvn lahir di hari Sabtu, 25 Agustus 2007, sehingga pada saat proses kelahirannya saya ada mendampingi istri saya. Dvn lahir pada pukul 18.15 WIB, dengan panjang badan 50 cm dan berat badan 3260 gr.

Nama Devan Aditya Ramadhan, berisi harapan saya sebagai orang tua agar kelak dia menjadi anak lelaki yang senantiasa berada di depan, memimpin diri dan keluarga, menjaga adik-adiknya. Memiliki sifat pemberani, bertanggung jawab, penuh cinta kasih pada sesama. Semoga harapan saya dapat terkabul. Aamiiin...

Anak kedua, saat ini usianya 2 tahun, nama lengkapnya Dzaki Satria Aryadhana. Saya biasa menulis inisial namanya dengan Dz. Proses kelahiran Dz ini cukup menarik karena di hari Sabtu yang cerah, 24 Agustus 2013, niat kami ke Rumah Sakit adalah untuk mengikuti kegiatan senam hamil. Namun ternyata suster menyatakan sudah mulai ada bukaan. Segera kami masuk ruang observasi dan Dz lahir melalui proses persalinan normal pada pukul 14.14 WIB dengan panjang badan 49 cm dan berat badan 3010 gr. Ketika Dz lahir, saya bekerja di sebuah perusahaan IT Services di Bandung, dengan posisi sebagai Manajer SDM & Umum. Secara ekonomi, kondisi keluarga kami saat itu cukup baik.

Nama Dzaki Satria Aryadhana, mengandung harapan agar kelak dia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, berjiwa satria dan dilimpahi rizki yang berkah dari Allah SWT, sehingga mampu menjadi penolong bagi sesama.

Anak bungsu, saat ini usianya baru beberapa minggu, nama lengkapnya Dipta Rizki Wiratma. Saya biasa menulis inisialnya dengan Dp. Dp lahir melalui proses normal di hari Minggu yang mendung, tanggal 7 Februari 2016, pada pukul 08.08 WIB, dengan panjang badan 50 cm dan berat badan 2850 gr. Proses persalinan berlangsung cepat, namun sang ibu harus mengalami pendarahan sehingga harus diambil tindakan. Syukur alhamdulillah semua dapat pulang ke rumah dalam keadaan sehat. Ketika Dp lahir, saya sudah memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur, dan mulai merintis menulis blog Ayah Penuh Waktu.

Nama Dipta Rizki Wiratma, mengandung doa semoga dia menjadi anak lelaki yang berjiwa pencerah, dilimpahi rizki yang penuh berkah. Saya pribadi merasa saat Dp lahir, saya berada dalam kondisi yang sangat baik dan dapat melihat masa depan kami demikian cerah dengan pilihan hidup yang saya ambil sebagai entrepreneur.

Demikian kisah saya tentang arti nama anak-anak. Sekali lagi nama anak adalah doa yang terucap dari mulut kedua orang tuanya. Pastikan anda memberi nama yang baik bagi anak-anak anda.

Salam!

HashOcean

Kamis, 03 Maret 2016

Bantu Anak Raih Cita-cita

Jika diingat kembali, dulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kita sering kali diarahkan oleh kedua orang tua kita untuk rajin belajar, agar mendapat nilai yang baik di sekolah. Saya ingat, saya merasa jarang ditanya apa yang saya suka dari pelajaran di sekolah. Orang tua selalu menuntut kita untuk mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran.

Beruntung kemudian saya belajar Psikologi. Setelah belajar Psikologi saya semakin memahami bahwa setiap manusia itu unik, bahkan untuk sepasang anak kembar identik sekalipun. Keunikan ini lah yang menjadi dasar saya untuk tidak memberikan pendekatan yang sama terhadap anak-anak saya kelak.

Saya akan perhatikan betul apa yang menjadi minatnya, dan saya akan memberikan dorongan lebih di area yang mereka minati. Tujuan saya sederhana, meningkatkan level kebahagiaan mereka dalam melakukan sesuatu yang mereka minati, dan menurunkan level stres-nya dengan harapan hasil karya mereka optimal.

Diskusi ini akan lebih luas terkait dengan rencana pendidikan mereka di masa depan. Satu hal yang terpikir oleh saya saat ini adalah saya akan tanyakan betul apa yang menjadi cita-cita anak saya, apa yang ingin mereka lakukan, bidang profesi apa yang mereka sukai dan ingin dikuasai. Saya tidak akan pernah memaksakan mereka untuk menyenyam bangku kuliah jika memang mereka tidak membutuhkannya.

Wow terdengar ekstrim ya. Wait, nanti dulu, begini penjelasannya. Saat ini anak sulung saya masih duduk di bangku SD kelas 3, masih ada waktu sekitar 9 tahun lagi hingga dia lulus SMA. Saya akan pastikan terlebih dahulu apa yang mau dia lakukan selepas SMA nanti. Menjadi seorang entrepreneur, Dokter, Psikolog, Arsitek atau apa?

Jika dia menginginkan untuk menjadi seorang Entrepreneur, maka selepas SMA nanti dia akan saya arahkan untuk langsung terjun ke dunia wirausaha, tanpa perlu sekolah terlalu tinggi di awalnya. Bayangan saya, 5 tahun setelah itu dia bisa mencapai kesuksesan usahanya, yang berarti usianya masih 22 tahun. Disini, jika dia mau kuliah, usianya masih relatif muda dan secara finansial dia sudah relatif mapan. ^_^

Alternatif lain, jika ingin menjadi seorang profesional (Arsitek, Dokter, Psikolog, dll) maka saya akan arahkan dia untuk masuk perguruan tinggi terbaik yang sesuai dengan minatnya. Selesaikan Strata 1, Strata 2, Strata 3 baru kemudian mengabdi kepada masyarakat. Mungkin pertanyaannya adalah si anak hidup, uangnya dari mana, kok sekolah terus. Jawaban saya sederhana, rejeki dari Allah.

Kira-kira demikian yang ingin saya lakukan kelak dalam membantu anak-anak meraih cita-citanya.

Salam!


HashOcean

Minggu, 28 Februari 2016

Jangan Takut Bermimpi Walau Sedang Bekerja

Ketika masih bekerja dulu, untuk menyegarkan pikiran kembali saya suka ambil cuti 1 hari dan kemudian melakukan banyak hal diluar kebiasaan di hari itu. Salah satu kegiatan yang saya pernah saya lakukan di hari cuti saya adalah keluar dari rumah dengan berjalan kaki, membeli koran pagi, pergi ke tempat orang berjualan makanan untuk sarapan, lalu sambil menikmati sarapan pagi, saya menikmati bacaan koran pagi saya. Saya melakukan itu tanpa batas waktu, artinya demikian rileks, hingga bisa jadi saya kembali ke rumah untuk mandi pagi menjelang pukul 12 siang. Perasaan senang ketika melakukan hal itu terekam kuat di benak saya.

Kebanyakan orang yang bekerja, dia baru akan mengambil cuti bila ada keperluan, baik keperluan pribadi maupun keluarga. Diluar itu biasanya seseorang akan fokus dengan pekerjaannya. Sebagai orang mudah bosan, pikiran saya selalu berkelana ke mana-mana di saat jam kerja. Tak jarang saya pun merasa seperti kehabisan energi hingga membutuhkan memejamkan mata sejenak di siang hari.

Saya masih ingat suatu ketika pernah mengatakan ini pada kakak Dvn ketika mengantarnya pergi ke sekolah.
"Kak, kamu senang tidak seandainya setelah Ayah jemput kamu pulang sekolah, kita tidak langsung pulang melainkan pergi makan siang bersama-sama."

Jawaban kakak ketika itu, "Senang sekali." Sambil tersenyum senang.

Beberapa waktu kemudian, kakak Dvn, bertanya,"Ayah kapan kita pergi makan siang bersama, setelah aku pulang sekolah?"

Saat itu saya masih mengatakan,"Belum sekarang Nak, nanti Insya Allah."

Beberapa waktu yang lalu saya sudah mewujudkan cita-cita saya tersebut, saya berhasil mengajak kakak Dvn pergi setelah saya jemputu dari sekolah. Bukan untuk makan siang, melainkan untuk membeli sepeda. Subhanallah... Alhamdulillah.

Disini saya semakin percaya, apapun yang pikiran Anda bisa bayangkan, Anda bisa wujudkan.

Jangan takut untuk bermimpi dan bermimpilah BESAR!

Salam!


HashOcean

Minggu, 24 Januari 2016

Guru Kita Ada di Youtube



Pagi ini saya membaca sebuah artikel di harian KOMPAS edisi Minggu, 24 Januari 2016, yang berjudul "YOUTUBE SANG 'GURU BESAR'"
Loh kok baca koran kemarin di hari ini?
Hehehe buat saya, informasi terkini itu bisa didapat segera dengan 'googling'.
Membaca koran di tangan itu kenikmatan lain yang berbeda.
Kembali ke topik tulisan, di artikel tersebut diungkapkan bahwa saat ini setiap orang yang memiliki akses internet dapat berguru tentang apapun dengan siapapun melalui channel YOUTUBE.

WOW!

Itu yang terlintas di benak saya.
Saya jadi teringat dengan lembaran-lembaran ijazah yang saya dapat sejak TK hingga Perguruan Tinggi.
Ijazah itu benar-benar hanya berupa lembara kertas, tak bermakna apabila si empunya ijazah tidak mengisi dan mengembangkan diri di kehidupan nyata, sesuai dengan minat dan keilmuannya.

Itu artinya dalam beberapa tahun ke depan, generasi anak-anak saya menghadapi sebuah kemungkinan bahwa untuk mendapat pendidikan, tidak melulu harus melalui sekolah formal.
Mereka punya peluang untuk menjadi apapun yang mereka mau sesuai dengan minat dan bakat mereka, karena sang GURU sudah tersedia di YOUTUBE, menanti untuk ditemukan.

Well, tulisan ini benar-benar muncul secara spontan di benak pikiran saya.
Kebenarannya pun masih dapat diperdebatkan.

Namun terlepas dari itu, sisi positifnya adalah kita semua masih memiliki peluang mengembangkan minat dan bakat kita, dibantu oleh "GURU BESAR YOUTUBE".
^_^

Salam!

Jumat, 22 Januari 2016

Menghadapi Si Delapan Tahun


Tulisan ini tentang anak pertama saya, Dvn, yang saat ini berusia 8 tahun lebih, sebut saja sebagai kakak.
Dalam keluarga, kakak cukup lama diperlakukan sebagai layaknya anak tunggal, 6 tahun sebelum kemudian adiknya lahir. Selama itu dia selalu mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya, tak terbagi.
Mungkin hal ini yang menyebabkan munculnya perilaku manja, dihadapan sang adik ketika berinteraksi dengan Ayah-Ibunya.

Dalam hati kadang saya merasa kesal, masak anak lelaki pertama usia 8 tahun, masih bersikap seperti itu. Namun ketika sedang tenang dan saya coba pikir kembali, saya akhirnya memilih untuk bersikap berbeda dalam melihat hal ini.
Benar, sebagai anak lelaki pertama yang saat ini sudah berusia 8 tahun, kakak harus belajar untuk mandiri. Terutama mampu untuk mengurus dirinya sendiri seperti untuk urusan mandi, buang air besar dan kecil, makan, belajar, menyiapkan buku-buku sekolah. Ditambah tugas perkembangan lain terkait sosialisasi dengan lingkungan, teman sebaya, adik-adik dan orang-orang yang lebih tua.


Namun di sisi lain, sebagai ayah saya pun merasa bahwa waktu tidak bisa diputar kembali, ini menjadi semacam pembenaran kalau saya pun masih ingin memanjakannya, sebagaimana sang adik.

Ketika sedang bercengkerama, kakak memang sering memberikan kejutan-kejutan untuk kami. Tak jarang ia menceritakan pengalamannya di sekolah, kemudian mengatakan tentang sebuah kosa kata yang menurut saya belum saatnya dia tahu, karena tingkat ke-abstrakan maknanya.
Mendengar ceritanya pasti menjadi sebuah momen yang heboh kalau tidak bisa dikatakan berisik, karena kakak akan bercerita dengan penuh semangat dan penuh efek suara.

Ya, kakak, sesungguhnya anak yang jenaka dan ceria namun juga sekaligus sensitif. Sensitif tidak hanya pada perasaan namun juga pada perubahan cuaca yang seringkali membuat 'penyakitnya' kambuh.

Kadang saya merasa marah sekali jika dalam kondisi sehat, kami senantiasa mengingatkan kakak untuk beristirahat menjaga kondisi tubuhnya, dan kakak lebih memilih untuk bermain. Jika sudah bosan bermain, atau menghadapi kekalahan dalam bermain, kakak pasti membuat sebuah ekspresi yang mudah dikenali, dan terkadang terdengar menyebalkan bagi saya. Ekspresi merajuk manja, seperti marah-marah, namun ketika ditanya, kakak tidak mau mengungkapkan secara terbuka.

Itulah cerita si kakak, berusia 8 tahun saat ini. Sedang dalam masa pertumbuhan. Minatnya terhadap hal-hal baru, ditunjang dengan fasilitas kemudahan informasi seperti saat ini, membuatnya cepat menangkap segala hal terbaru yang sedang terjadi di dunia ini.

Semoga kakak selalu sehat dan tumbuh menjadi anak yang berguna.

Aamiiin.

Salam!

Selasa, 19 Januari 2016

Bahaya Anak Kecanduan Gadget

Pagi ini (Kamis, 14 Januari 2016) saya kebetulan melihat sebuah tayangan di televisi yang sedang membahas tentang "Bahaya Anak Kecanduan Gadget". Salah satu narasumbernya adalah seorang Ayah yang juga ahli parenting. Ia memiliki seorang anak yang sempat mengalami kecanduan dengan gadget (games komputer) sejak usia 6 tahun. Prestasi sekolah sang anak sempat anjlok,  namun kemudian setelah menyadari permasalahan dan bersedia berkonsultasi dengan ahlinya (Psikolog), melalui serangkaian intervensi akhirnya kondisi sang anak berubah 180 derajat hingga menjadi siswa yang berprestasi di sekolahnya.

Satu hal yang menarik dari tayangan tersebut adalah ketika sang Ayah mengakui kesalahannya dalam proses mendidik anak-anaknya di rumah. Dia mampu menurunkan ego-nya, yang diluar dikenal sebagai ahli parenting, terbiasa membantu para orang tua dan anak-anak yang lain, bergerak mencari bantuan ahli diluar dirinya. Ini merupakan satu contoh sikap ksatria dari seorang Ayah, yakni berani mengakui kesalahan/kelemahan diri dan mencari serta meminta bantuan orang lain.

Menurut diagnosa Psikolog, gangguan perilaku yang dialami oleh sang anak (kecanduan games komputer) disebabkan oleh tercurahnya perhatian Ibu kepada anak yang baru lahir (sang Adik), sementara sang Kakak (penderita gangguan perilaku) juga membutuhkan perhatian yang sama dari sang Ibu, namun tidak mendapatkannya. Pengalihan terus-menerus dari sang Ibu agar sang anak memperoleh perhatian dari sang Ayah, sementara di sisi lain sang Ayah sibuk bekerja, membuat anak beralih kepada gadget (games komputer) untuk menenangkan kegelisahan batinnya. Hal ini terjadi hingga pada satu titik mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.

Sang Ayah mengakui bahwa untuk merawat dan mendidik seorang anak, anak membutuhkan kedua orang tuanya. Digambarkan bahwa Allah menciptakan seorang anak manusia dalam keadaan yang sempurna, hanya dibedakan oleh jenis kelamin, namun sesungguhnya didalam dirnya, ia masih 'kosong' sebagaimana sebuah kertas putih. Anak membutuhkan 'role model' untuk memberi 'warna' dalam dirinya, figur 'role model' yang terdekat adalah orang tua, sebelum kemudian ia menemukan sosok 'role model' lain di masa remaja dalam lingkup yang lebih luas.



Melihat tayangan tersebut, semakin memperkuat keyakinan saya akan pilihan yang saya ambil. Bekerja dari rumah akan memberikan banyak manfaat bagi keluarga, khususnya dalam proses  tumbuh kembang anak-anak. Anak-anak membutuhkan kehadiran ayah dan ibunya dalam proses tumbuh kembangnya, dan itu tidak bisa digantikan oleh gadget secanggih apapun.

Hari ini, mustahil anak kita bebas dari yang namanya gadget. Namun demikian, kita sebagai orang tua punya kontrol untuk mengarahkan tentang bagaimana cara memanfaatkan gadget dengan baik, agar dapat memberikan manfaat bagi penggunanya.

Tayangan televisi tersebut di atas memperlihatkan salah satu dari sekian banyak bahaya anak kecanduan gadget. Mari kita dampingi anak-anak mengenal dan menggunakan gadget dengan baik.

Salam!

Senin, 18 Januari 2016

Proses Menyapih Si Dua Tahun



Menyapih menurut artikata.com berarti menghentikan anak menyusu (verb).

Namun dalam pengertian saya menyapih juga bisa diartikan menghentikan anak pada kebiasaan-kebiasaan yang kurang patut sebelum berlarut-larut. Seperti halnya yang sempat dilakukan Dz kepada saya beberapa waktu lalu. Dz selalu meminta saya untuk membuka baju, kemudian dia akan meminta naik di punggung saya dan berpegangan erat di sana untuk waktu yang cukup lama. Aktivitas ini dalam satu hari bisa berulang tiga hingga empat kali.

Awalnya saya selalu menuruti permintaan Dz untuk itu. Saya menganggap lucu perilaku tersebut. Namun suatu ketika istri saya mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut kurang baik, hingga pada suatu hari kami putuskan untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Caranya mudah saja, pada saat Dz meminta saya untuk membuka baju, saya mengatakan tidak dengan tegas dan berusaha menjelaskan bahwa hal tersebut tidak dapat saya lakukan. Saya mengambil analogi peristiwa sehabis mandi Dz selalu ayah pakaikan baju, mengapa ayah harus membuka baju? Tentu saja anak umur dua tahun tersebut tidak langsung memahami maksud penjelasan saya, sehingga yang terjadi adalah dia menangis tersedu-sedu. Untuk kebiasaan yang pertama ini, berhasil kami atasi, Dz tidak lagi meminta saya untuk membuka baju jika ingin naik ke punggung saya.




Namun ternyata muncul kebiasaan baru lain yang diduga akan mengganggu, yakni kebiasaan Dz jatuh tertidur di punggung saya. Sebelumnya jika mengantuk, Dz akan pergi ke kamar, merebahkan diri di kasur, kemudian tertidur, atau bahkan dia bisa tertidur di atas karpet bermain jika sudah benar-benar mengantuk. Namun belum lama ini muncul kebiasaan baru, Dz baru akan tertidur jika rebahan di atas punggung saya atau kakaknya.

Awalnya saya berpikir kebiasaan ini bagus dan lucu sampai suatu ketika saya hendak bekerja, dan Dz meminta untuk naik ke punggung saya. Tentu ini akan mengganggu konsentrasi saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunci diri di kamar, dan Dz berada di luar bersama ibunya. Reaksi Dz ketika itu menangis keras, menggedor-gedor pintu selama kurang lebih 5 menit, sampai akhirnya sang bunda menemukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya. Momen 5 menit itu yang menentukan, kalau kita tahan maka proses penyapihan bisa sukses, namun kalau tidak kita harus ulangi lagi dari awal.

Kunci dari keberhasilan tindakan ini adalah kesepakatan Ayah dan Ibu untuk sama-sama siap menghadapi tangisan sang anak yang kadang memekakkan telinga dan tidak sedap dipandang, tak jarang kita pun merasa kasihan kepada si anak karena dia menangis sesenggukan bahkan hingga terbatuk-batuk. 

Kesimpulannya: dalam proses menyapih kita (ayah dan ibu) harus bersepakat siap menghadapi proses ketegangan yang akan terjadi ketika anak dicegah untuk memperoleh sesuatu yang dia inginkan, sambil berupaya mencari objek pengalihan yang tidak 'membahayakan' bagi perkembangan si anak.

Demikian pengalaman saya, semoga bermanfaat.

Salam!

Minggu, 17 Januari 2016

Ketika Ayah Harus Marah



Salah satu ekspresi emosi yang sulit bagi saya ungkapkan adalah ekspresi marah. Saya merasa sangat buruk dalam mengekspresikan sebuah kemarahan. Belum lama ini saya mengalami sebuah peristiwa yang sangat tidak menyenangkan dan sangat saya sesali pada akhirnya.

Sore itu, kami berempat sedang beristirahat. Saya, istri, Dvn (8 th) dan Dz (2th). Menjelang pukul 16.30, Dz mulai terbangun dan agak rewel, sementara sang kakak sudah terbangun lebih dahulu dan sedang asyik dengan tabletnya. Saya yang masih setengah sadar karena juga baru terbangun, berusaha untuk menenangkan Dz, dengan memangkunya. Dz cukup tenang. Kemudian saya melihat Dvn menggunakan topeng ultraman miliknya dan berdiri tidak jauh berhadapan dengan Dz. Reaksi Dz adalah merengek, tidak suka. Awalnya saya menegur Dvn dengan cara halus. Namun entah mengapa, saya merasa Dvn tidak menghiraukan teguran saya, sampai akhirnya ketika Dvn kembali menggunakan topeng ultraman dan reaksi Dz adalah merengek hendak menangis, seketika saya langsung berteriak keras, "HEY, DIBILANGIN JANGAN GANGGU ADIKNYA, MASIH GANGGU JUGA!"

Reaksi Dvn langsung menangis sesenggukan. Istri saya keluar dari kamar dan kemudian menegur saya. Dalam hati saya segera ber-istighfar. Perasaan di dalam hati saya tidak tenang, jantung berdebar-debar. Seketika saya pun menyesal, namun tidak tahu harus berbuat apa setelahnya.

Untuk mengalihkan perasaan, saya pun mencoba melakukan rutinitas sore itu, dengan menyiapkan air mandi untuk Dz dan Dvn. Setelah air siap, saya memandikan Dz, lalu memanggil Dvn untuk mandi. Setelah itu saya minta ijin kepada istri untuk ke luar potong rambut, yang memang sudah jadi rencana saya sejak siang tadi.

Sepulang dari potong rambut, adzan maghrib mulai berkumandang, setelah mandi, saya pun segera ambil air wudhu dan mendirikan shalat maghrib, diikuti dengan membaca Al-Quran. Saya melihat Dvn sudah jauh lebih tenang dan sudah selesai mendirikan shalat. Setelah membereskan perangkat shalat, saya segera menghampirinya, sembari berbisik, "Maafkan Ayah atas kejadian tadi ya Nak!", sambil mengecup kepalanya. Setelah itu perasaan saya jauh lebih lega.

Ke depan, saya merasa harus lebih pandai mengelola diri dan mengekspresikan kemarahan saya, terutama kepada anak-anak. Jangan sampai saya menyesal di kemudian hari.

Salam!

Rabu, 13 Januari 2016

Ketika Ayah Memutuskan Bekerja Di Rumah

Sebagai Ayah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, saya sering merasa terganggu ketika sedang konsentrasi bekerja, tiba-tiba mendapat SMS atau telpon dari rumah yang menginformasikan bahwa telah terjadi sesuatu di rumah, entah berkaitan dengan kondisi rumah atau berkaitan dengan kondisi anak kita yang sedang sakit misalnya. SMS atau telpon yang tiba-tiba itu membuyarkan ritme kerja dan konsentrasi yang telah terbentuk sejak pagi. Saya percaya, diantara para pembaca pun mungkin ada yang merasakan demikian.

Salah satu role model saya adalah pasangan Bapak Habibie & (Almh) Ibu Ainun. Saya merasa iri dengan beliau, karena di sebuah buku Bu Ainun menyatakan bahwa beliau memberi ruang yang penuh bagi Bapak (Habibie) untuk bekerja. Ibu Ainun tidak ingin urusan di rumah mengganggu konsentrasi kerja Bapak (Habibie) di kantor, dengan demikian beliau berusaha untuk menangani semua urusan di rumah. Setelah membaca kisah itu, saya pun berkhayal... ah seandainya saja istriku dapat melakukan hal yang sama seperti yang Ibu Ainun lakukan untuk Bapak Habibie. Syukur alhamdulillah... kenyataan yang saya hadapi tidaklah demikian. ^_^

Jika ada sesuatu terjadi di rumah, istri saya selalu memberitahu baik via SMS maupun telpon. Konsentrasi kerja saya pun buyar dibuatnya. Namun demikian situasi inilah yang kemudian mendorong saya untuk belajar dan berpikir mencari solusi agar saya tidak mengalami kembali hal yang sama di masa yang akan datang. Pencarian itu berlangsung dalam alam bawah sadar saya, sampai akhirnya sampailah pada 'AHA!'
Muncul ide bahwa saya bisa bekerja dari rumah.
Di luar sana sudah banyak orang melakukan hal seperti ini. Mengapa saya tidak melakukannya sendiri. Namun demikian hati kecil saya masih menyimpan sedikit keraguan,
"Benarkah hal ini dapat saya lakukan?"


Dari proses pencarian, riset, ujicoba yang saya lakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah tahun terakhir, akhirnya saya mendapatkan ilmu tentang bagaimana cara untuk mendapatkan penghasilan dengan memanfaatkan koneksi internet, media sosial, blog dan youtube.

Saya harus mempelajari semua hal tersebut di awal, karena saya benar-benar awam. Setelah pengetahuan yang saya dapat sudah memadai, langkah selanjutnya adalah mengambil keputusan untuk mencoba, keberanian untuk mengambil tindakan. Tanpa itu, mustahil saya mendapat hasil sebagaimana yang saya raih saat ini.

Perlahan-lahan keraguan saya semakin sirna, karena saya dipertemukan dengan sekelompok orang yang ternyata memiliki pemikiran yang sama dengan saya. Mereka adalah orang-orang yang merasakan 'kegalauan' sebagaimana yang juga saya rasakan, kemudian mereka berani mengambil keputusan untuk bertindak melakukan sebuah cara yang berbeda dari yang biasa selalu mereka lakukan. Perasaan 'galau' ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh saya, orang Indonesia, melainkan juga orang-orang dari belahan dunia yang lain. Kami pun berkesempatan untuk berbagi cerita melalui media skype. Rasanya bahagia menemukan orang-orang yang memiliki cara berpikir yang sama, walau saat ini jumlah mereka relatif masih sedikit dibandingkan dengan jumlah orang-orang yang berpikir 'mainstream'.

Ketika berada di rumah, saya pun harus beradaptasi. Berbagi peran dengan istri saya untuk melakukan tugas-tugas domestik. Mulai dari menyapu lantai, mengepel, mengganti galon air yang kosong, menguras bak mandi yang kotor, menyuapi anak, memandikan anak, menemani anak bermain, menemani anak tidur siang, mencuci-bilas dan menjemur pakaian, sampai memandikan anak di sore hari, memberi makan malam, dan kemudian mengantar anak untuk tidur.

Dari sinilah saya mendapatkan penghayatan bahwa pekerjaan seorang ibu rumah tangga itu demikian berat, mengerjakan segala sesuatu di rumah seorang diri manakala sang suami bekerja di luar rumah (kantor) amatlah menguras energi fisik dan psikisnya. Tak jarang para istri kita yang full ibu rumah tangga, tidak menemukan slot waktu untuk sekedar beristirahat sejenak. Apalagi para ibu yang juga bekerja, saya percaya otak mereka bekerja dua kali lebih keras karena harus memikirkan beberapa hal secara sekaligus, baik urusan kantor maupun urusan rumah. Hal ini kemudian yang harus dipahami juga oleh para suami agar tidak salah dalam bersikap terhadap istrinya.

Walau demikian, saya amat terbantu dengan kepribadian yang saya miliki. Saya selalu dapat menemukan cara yang menyenangkan ketika melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik tersebut. Sehingga akhirnya saya pun dapat menikmati seluruh rutinitas yang ada di rumah.



Kenikmatan yang paling saya syukuri saat ini adalah kesempatan untuk ada, bersama anak-anak saya, melihat mereka bertumbuh dan berkembang, menemani mereka mulai dari bangun pagi hingga tidur di malam hari. Dengan pilihan ini saya merasa bahwa kualitas hidup saya semakin meningkat, perasaan saya semakin bahagia, keimanan saya semakin meningkat, dan hubungan saya dengan istri semakin harmonis dan berkualitas.

Alhamdulillah, nikmat mana lagi yang aku dustakan...

Salam!



Senin, 11 Januari 2016

Si Dua Tahun Yang Menggemaskan

Memperhatikan tumbuh kembang anak ke-dua saya, Dz, sungguh amat mempesona.
Dz sekarang berusia 2 tahun 4 bulan.
Dalam kurun 1 bulan terakhir saya melihat beberapa perkembangan dalam dirinya yang cukup signifikan.
Apa sajakah itu?
  1. Trust / Kepercayaan diri terhadap orang lain atau lingkungan
    Saat ini Dz sudah lebih merasa aman terhadap keberadaan orang tua maupun orang lain di sekitarnya. Dulu pada saat masih berusia 1 tahun-an, Dz masih suka menangis jika bertemu orang baru, atau minimal selalu menyembunyikan kepala di balik tubuh ayah atau ibunya.
    Sekarang Dz tumbuh sebagai sosok anak yang ramah dengan lingkungannya, berani mendekati orang lain, dan bahkan menyapa dengan panggilan, "Kakek/Nenek, Ayah, Kakak bahkan Bayi." Perkembangan ini tentu sangat syukuri.
  2. Bahasa.
    Saat ini Dz berada pada fase sangat mudah meniru kata-kata yang diucapkan orang lain, seperti kata, "aduh, mau, mamah (makan), mimi (minum), bahaya, ai (air), jatuh, ketawa, dan lain sebagainya.
    Tak jarang ia menonton video iklan susu di youtube, memutar ulang dan meniru kata-katanya secara mandiri.
  3. Motorik
    Setelah melalui fase selalu ingin memanjat kursi maupun tangga, sekarang Dz berada pada fase gerakan yang lebih bisa diarahkan. Dia dapat mengikuti ajakan saya untuk berjalan keliling komplek, ke kamar mandi, atau sekedar berpindah dari lantai dasar ke lantai atas. Saat ini dia sedang suka mengetuk-ngetuk sapu lidi ke lantai, walhasil kemana pun dia pergi sapu lidi yang dia sebut 'bibi' ini tidak pernah lepas dari tangannya.

  4. Otonomi
    Saat ini Dz pun sudah mulai menampakkan kemandirian, salah satu yang nampak adalah dia dapat secara sukarela pergi tidur jika sudah merasa lelah bermain. Dalam hal bermain pun kini Dz sudah mampu menunjukkan minat dan keasyikan tersendiri terhadap permainan yang ia sukai, seperti bermain lidi, bermain lego, main kereta, dan nonton video pendek di youtube.

Dapat melihat proses tumbuh kembang anak, merupakan sebuah anugerah tersendiri bagi ayah seperti saya. Jika sebelumnya saya hanya mendapat informasi dari sang ibu, karena harus bekerja di kantor. Kini saya dapat melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saya bersyukur karena telah mengambil keputusan untuk menjadi ayah penuh waktu dan berkontribusi secara nyata dalam proses tumbuh kembang anak-anak saya.

Semoga pengalaman ini dapat dialami oleh para ayah yang lain.

Salam!


Minggu, 10 Januari 2016

Liburan Sejatinya Tak Perlu Mahal

Masih tentang liburan.
Momen pergantian tahun kemarin adalah momen yang bertepatan dengan masa liburan sekolah anak-anak. Hampir setiap keluarga di Indonesia berusaha berlibur bersama, sekaligus menikmati momen pergantian tahun.

Pertanyaan yang muncul di benak saya adalah ketika momen liburan tiba, pernahkah kita bertanya tentang bagaimana keinginan anak-anak ingin mengisi liburan mereka atau kita ingin mereka ikut apa yang sudah anda rencanakan?

Liburan bersama keluarga, di era media sosial seperti saat ini bisa menjadi sebuah ajang pamer sebuah keluarga tanpa kita sadari.
Keluarga A unggah foto liburan lagi di pulau B. Keluarga unggah foto lagi di pantai C. Keluarga C unggah foto lagi main air di waterpark D. Dan masih banyak lagi.

Pada kesempatan ini saya ingin mengajak para pembaca untuk berkontemplasi apa sesungguhnya makna dibalik liburan. Bagi saya pribadi, liburan itu tidak harus bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. Berlibur di rumah pun bisa menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dan tak terlupakan bagi seluruh anggota keluarga.

Pergantian tahun kemarin saya bersama keluarga tidak kemana-mana. Kami menghabiskan waktu lebih banyak di rumah saja. Walau demikian liburan kami kali ini cukup mengasyikkan karena istri saya mengkondisikan kita sekeluarga seperti sedang tinggal di hotel untuk beberapa hari.

Bagaimana caranya?
Caranya mudah saja, ia mempersiapkan sebuah kamar yang berbeda, untuk kita gunakan selama beberapa hari selama liburan. Kebetulan di rumah ibu kami yang terdiri atas 2 lantai itu tersedia beberapa kamar kosong yang sedianya digunakan apabila kakak-kakak kami datang ke Bandung.
Di kamar tersebut sudah tersedia tempat tidur, televisi dan juga penyejuk ruangan. Kamar mandi pun berada hanya beberapa langkah saja. Jadilah kami mengalami suasana yang berbeda pada liburan kali ini.

Sarapan pagi bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena kami punya kebebasan untuk memilih mau sarapan apa? Kami bisa sarapan oatmeal di rumah, atau pergi keluar untuk membeli bubur ayam, kupat tahu, nasi pecel atau lontong kari. Makan siang dan malam pun demikian, kami dapat memilih untuk memasak makan malam kami, atau pergi ke luar untuk membeli sate ayam, martabak telor atau yang lainnya.

Di rumah, kami bisa mengisi liburan dengan berbagai kegiatan disela-sela pekerjaan domestik yang mesti kami selesaikan. Pada kesempatan ini pula kami bisa menunjukkan kepada anak-anak kami tentang apa saja tugas domestik yang bisa mereka belajar lakukan, seperti menyapu, mengepel, mencuci pakaian, menyetrika atau memasak. Selain itu saya pun dapat mengeluarkan koleksi mainan yang pernah saya beli sebelumnya untuk dimainkan bersama anak-anak.






 Jika bosan berkegiatan di rumah, kami pun dapat memutuskan untuk pergi keluar, mengunjungi objek wisata yang banyak bertebaran di kota Bandung, salah satunya adalah Taman Balai Kota. Saya sempat membawa anak-anak berkunjung dan menikmati suasana Taman Balai Kota di hari Sabtu yang berawan. Anak-anak demikian menikmati suasana yang ada, apalagi ketika mencoba wahana baru kolam rendam sungai Cikapayang yang baru saja diresmikan Bapak Walikota Bandung, Dz tidak mau pulang. ^_^


Selain Taman Balai Kota, tak jauh dari sana ada Taman Vanda. Kami sempat mencoba menikmatinya di malam hari, ternyata di sana ada air mancur menari yang dihiasi lampu warna-warni. Bagus sekali menurut saya. Anak-anak saya begitu gembira menikmati semburan air mancur yang berubah-ubah gayanya. Dz sampai basah kuyup ketika hendak pulang ke rumah. Intinya malam itu anak-anak bergembira, orang tuanya apalagi.

Di kesempatan lain saya mengajak anak-anak berkunjung ke salah satu toko mainan besar di kota Bandung. Setelah lelah melihat-lihat, saya ajak mereka minum teh susu dingin. Mereka pun langsung anteng.

 

Setiap hari Minggu di jalan Buah Batu ada kegiatan Car Free Day, di penghujung liburan kali ini saya sempat mengajak keluarga saya untuk mencari sarapan lontong kari di sana dan sesudahnya saya bawa anak-anak untuk melihat-lihat dari dekat suasana Car Free Day itu sendiri.

Semua kegiatan itu tidak membutuhkan biaya yang mahal, jika dibandingkan dengan sebuah keluarga yang bepergian ke luar kota atau luar negeri. Saya merasa beruntung tinggal di kota Bandung yang saat ini banyak membangun taman-taman yang dapat dinikmati dengan gratis.

Jadi, kembali lagi berlibur artinya keluar sejenak dari rutinitas dan melakukan kegiatan yang menyenangkan dan menyegarkan bersama keluarga. Bukan soal destinasi, tapi lebih kepada kegiatan yang benar-benar menyenangkan yang diikuti oleh seluruh anggota keluarga.

Liburan sejatinya tidak perlu mahal.

Salam!

Jumat, 08 Januari 2016

Liburan Segera Usai


Liburan semester ganjil kali ini lumayan lama bagi Kakak, yang duduk di kelas 3 SD. Dia libur sejak tanggal 22 Desember 2015 hingga 10 Januari 2016. Baru akan masuk sekolah hari Senin, 11 Januari 2016.

Menjelang masuk sekolah, orang tua perlu mempersiapkan beberapa hal terhadap anak yang kembali masuk sekolah. Apa saja persiapannya? Mari kita lihat bersama-sama:

  1. Periksa kembali perlengkapan sekolah buah hati kita. Buku bacaan, buku tulis, alat tulis, tas, seragam sekolah lengkap dan sepatu sekolah. Pastikan semua perlengkapan sekolah tersebut  sudah siap untuk digunakan di hari pertama masuk sekolah nanti.
  2. Lakukan penyesuaian terhadap pola tidur buah hati kita beberapa hari sebelum hari H masuk sekolah. Selama liburan kemarin saya agak memberi kebebasan kepada kakak untuk tidur lebih larut dan bangun agak siang. Penyesuaian ini diperlukan agar buah hati kita kembali kepada pola tidur yang semula.
  3. Periksa kembali pengumuman dari sekolah tentang kegiatan apa yang akan dilakukan di hari pertama masuk sekolah nanti. Hal ini akan menentukan apakah kita perlu mempersiapkan sesuatu hal yang khusus, atau hal tersebut tidak diperlukan.
  4. Periksa kembali raport yang kemarin sempat kita terima dari ibu guru. Pastikan anda sudah melihat dan menandatangani raport tersebut untuk kemudian dikumpulkan kembali kepada ibu guru. 
Jika ke-empat hal tersebut sudah kita persiapkan, Insya Allah buah hati kita tidak akan menemui kendala di hari pertama sekolahnya esok.

Demikian sedikit tips dari saya, semoga bermanfaat.

Salam!



Rabu, 06 Januari 2016

Resensi Buku "Bukan Emak Biasa"

 
Hari ini, Rabu, 6 Januari 2016, saya mendapat tantangan dari teman saya yang juga penulis buku "Bukan Emak Biasa - Refleksi Psikologis Pengasuhan Anak", Ibu Fitri Ariyanti Abidin.

Beliau adalah seorang teman kuliah di jenjang S1 Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Seorang wanita yang religius, santun namun tetap hangat dalam pertemanan. Ia juga termasuk salah seorang mahasiswi di angkatan saya yang lulus cepat dengan nilai yang baik.

Bulan Desember 2015, buku "Bukan Emak Biasa" diterbitkan oleh PT Kaba Media Internusa. Dengan total 230 halaman, buku ini terbagi menjadi 6 bagian yang masing-masing menceritakan tentang:
1. Penghayatan
2. Unconditional Love
3. Basic Parenting Skill
4. Dinamika Perkembangan Anak
5. Persoalan Anak Masa Kini
6. Partner Ibu: Ayah dan Guru

Sebagai pembaca dengan latar belakang lulusan Fakultas Psikologi, saya mendapati buku ini sangat menarik dari segi isi, karena menceritakan tentang pengalaman penulis menjalankan peran ibu bekerja dalam proses pengasuhan ke empat anaknya dengan masing-masing karakter kepribadian yang unik.

Di buku ini kita bisa menghayati bagaimana penulis menjalani perannya sebagai ibu, melakukan pendekatan yang berbeda ketika menghadapi masing-masing buah hatinya. Setiap anak dengan usia yang berbeda, berada pada fase perkembangan yang berbeda, menunjukkan ekspresi perilaku yang berbeda pula. Penulis cukup mampu menampilkan fleksibilitas diri dalam menyesuaikan diri dengan setiap keadaan ketika berinteraksi dengan buah hatinya.

Dari setiap interaksi yang terjadi, penulis senantiasa menunjukkan konsep teori yang melatarbelakangi terjadi sebuah peristiwa yang dialami oleh sang buah hati. Tak jarang penulis juga menyampaikan pesan atau nasehat yang bersumber pada Al-Quran dan Al-Hadits atau pun kisah-kisah yang penulis dapat dari buku-buku yang telah dibacanya.

Dengan gaya penuturan yang ringan dan bahasa yang mudah dimengerti, penulis berbagi pengalamannya kepada para pembaca. Sejatinya tulisan di dalam buku ini merupakan kumpulan tulisan penulis yang telah dipublikasikan di dalam blog pribadi www.fitriariyanti.com

Menjadi orang tua adalah sebuah peran yang tidak akan berujung sampai ajal memanggil. Tidak ada satu panduan yang sempurna selain yang telah disampaikan oleh Allah SWT melalui kitab suci Al-Quran dan juga Al-Hadits. Namun demikian buku ini dapat menjadi sumber referensi yang sangat mudah untuk menjadi pegangan bagi pembaca manakala menghadapi situasi-situasi yang serupa sebagaimana yang telah tertulis di dalam buku ini.

Kekurangan dari buku ini hanya sebatas hal kecil seperti kesalahan pada penulisan, selain itu adalah kelebihan dan manfaat.

Buku saya rekomendasikan untuk dibaca tidak hanya oleh para ibu sebagai aktor utama dalam proses pengasuhan anak, namun juga oleh para ayah memiliki peran dan pengaruh yang tidak sedikit dalam proses tumbuh kembang anak-anak kita.

Segera dapatkan buku, bisa pesan langsung melalui akun facebook penulis dan rasakan manfaatnya.

Salam!