Tampilkan postingan dengan label #Resign. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Resign. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

Jangan Takut Bermimpi Walau Sedang Bekerja

Ketika masih bekerja dulu, untuk menyegarkan pikiran kembali saya suka ambil cuti 1 hari dan kemudian melakukan banyak hal diluar kebiasaan di hari itu. Salah satu kegiatan yang saya pernah saya lakukan di hari cuti saya adalah keluar dari rumah dengan berjalan kaki, membeli koran pagi, pergi ke tempat orang berjualan makanan untuk sarapan, lalu sambil menikmati sarapan pagi, saya menikmati bacaan koran pagi saya. Saya melakukan itu tanpa batas waktu, artinya demikian rileks, hingga bisa jadi saya kembali ke rumah untuk mandi pagi menjelang pukul 12 siang. Perasaan senang ketika melakukan hal itu terekam kuat di benak saya.

Kebanyakan orang yang bekerja, dia baru akan mengambil cuti bila ada keperluan, baik keperluan pribadi maupun keluarga. Diluar itu biasanya seseorang akan fokus dengan pekerjaannya. Sebagai orang mudah bosan, pikiran saya selalu berkelana ke mana-mana di saat jam kerja. Tak jarang saya pun merasa seperti kehabisan energi hingga membutuhkan memejamkan mata sejenak di siang hari.

Saya masih ingat suatu ketika pernah mengatakan ini pada kakak Dvn ketika mengantarnya pergi ke sekolah.
"Kak, kamu senang tidak seandainya setelah Ayah jemput kamu pulang sekolah, kita tidak langsung pulang melainkan pergi makan siang bersama-sama."

Jawaban kakak ketika itu, "Senang sekali." Sambil tersenyum senang.

Beberapa waktu kemudian, kakak Dvn, bertanya,"Ayah kapan kita pergi makan siang bersama, setelah aku pulang sekolah?"

Saat itu saya masih mengatakan,"Belum sekarang Nak, nanti Insya Allah."

Beberapa waktu yang lalu saya sudah mewujudkan cita-cita saya tersebut, saya berhasil mengajak kakak Dvn pergi setelah saya jemputu dari sekolah. Bukan untuk makan siang, melainkan untuk membeli sepeda. Subhanallah... Alhamdulillah.

Disini saya semakin percaya, apapun yang pikiran Anda bisa bayangkan, Anda bisa wujudkan.

Jangan takut untuk bermimpi dan bermimpilah BESAR!

Salam!


HashOcean

Selasa, 16 Februari 2016

Tinjauan Psikologi: Seseorang Yang Kehilangan Pekerjaan

Ide tulisan ini muncul karena di awal tahun 2016 ini saya banyak membaca berita tentang "Pemutusan Hubungan Kerja" di banyak perusahaan terkemuka. Hal yang disoroti adalah bagaimana tindakan pemerintah, bagaimana reaksi karyawan yang biasanya diekpresikan dengan demonstrasi menuntut ini-itu ke pemerintah, namun jarang sekali yang menuliskan tentang apa yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang kehilangan pekerjaan tersebut untuk bangkit lagi.

Pada kesempatan ini, saya akan melakukannya. Dalam kurun 9 tahun terakhir pengalaman saya bekerja di perusahaan, saya sudah mengalami 2 kali kehilangan pekerjaan. Bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan, namun saya mencoba kilas balik apa saja yang saya hayati secara psikologis ketika menghadapi hal itu.

Kehilangan pekerjaan menurut saya merupakan salah satu 'catasthropic event', bencana kehidupan atau namun belum sampai pada kiamat kecil. Mengapa? Karena kalau sudah terjadi kiamat kecil, berarti kehidupan seseorang sudah terhenti alias sudah meninggal. hehehe...

Bencana kehidupan ini tentu akan mengguncang kondisi psikologis seseorang. Pada awalnya ketika mencoba masuk dunia kerja, saya adalah pribadi yang optimis dan terbuka, selalu ingin mempelajari hal baru dan bersedia bekerjasama dalam sebuah kelompok. Pada saat saat mengalami kehilangan pekerjaan yang pertama, saya mengalami rasa TAKUT dan CEMAS yang luar biasa tentang masa depan saya yang tiba-tiba menjadi gelap saat itu. Saya membutuhkan waktu menenangkan diri. Disaat seperti ini dukungan penuh dari seorang istri amatlah dibutuhkan.

Setelah mampu menguasai diri, saya pun mencoba untuk mengumpulkan rasa PERCAYA DIRI yang sempat hancur. Harus memompa lagi SEMANGAT dan KEBERANIAN untuk mencoba menebarkan surat lamaran pekerjaan agar dilirik oleh Perusahaan. Tidak ada jaminan bagi saya, perlu berapa lama hingga saya mendapatkan kesempatan untuk janji temu wawancara. Namun pengalaman saya di saat kehilangan pekerjaan saya yang pertama, saya hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan kembali. Patut diduga hal ini terjadi karena usia saya masih dibawah 30 tahun ketika itu.

Hal-hal yang saya coba pelajari kembali saat itu adalah menjaga pikiran selalu positif, memperbaiki Curiculum Vitae yang saya miliki dan berlatih untuk menghadapi sesi wawancara agar dapat diterima bekerja oleh perusahaan.

Pada momen kehilangan pekerjaan yang kedua, usia saya sudah diatas 35 tahun. Banyak perusahaan yang saya lamar sudah tidak melirik saya lagi. Namun saya tidak merasa kecil hati, bahkan belakangan saya merasa ini adalah berkah dari NYA. Ya saat ini saya merasa bersyukur saya tidak dilirik oleh perusahaan-perusahan tersebut karena dengan demikian saya memiliki kesempatan penuh untuk mengeksplorasi potensi kemampuan diri saya. Tekad saya sudah bulat, saya ingin menjadi seorang wirausahawan alias Entrepreneur, lebih spesifik lagi menjadi seorang Digital Entrepreneur.

Jadi, kalau anda kehilangan pekerjaan yang harus anda lakukan adalah:
1. Kendalikan rasa takut dan kecemasan anda.
2. Bangun kembali rasa percaya diri anda, dengan membaca buku biografi atau dengan melihat video motivasi yang banyak tersedia di Youtube.
3. Pompa lagi semangat, bangun optimisme di dalam diri.
4. Anda harus punya keberanian untuk bertindak, mengubah kondisi anda saat ini.

Demikian pengalaman dan penghayatan yang pernah saya alami ketika kehilangan pekerjaan dulu.

Selamat berkarya!

Salam!


HashOcean

Kamis, 04 Februari 2016

Bila Saya di-PHK


Awal tahun 2016 ini, saya dikejutkan dengan berita tentang "Ford Tarik Diri dari Indonesia", pada tanggal 25 Januari 2016.
http://mediaindonesia.com/news/read/25970/ford-tarik-diri-dari-indonesia/2016-01-25

Hari ini seorang kawan membagikan berita tentang dua perusahaan elektronik raksasa asal Jepang, Panasonic dan Toshiba menutup tiga pabriknya di Indonesia dalam kurun waktu Januari - Maret 2016. Lebih dari 2.500 karyawan dipastikan menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tidak hanya itu, di belahan dunia yang lain, tersiar kabar bahwa YAHOO mulai mengurangi karyawannya dan menjual aset-asetnya.

Pertanyaannya, "Siapa yang siap di-PHK tiba-tiba?"
Mungkin sebagian besar pembaca yang karyawan akan mengatakan tidak akan siap bila terkena PHK tiba-tiba. Mungkin saya pun akan memberi jawaban yang sama, bila di-PHK tiba-tiba.

Namun saya punya pengalaman yang kurang lebih mirip dengan di-PHK tiba-tiba. Selama 9 tahun pengalaman saya bekerja, saya mengalami 2 kali resign tiba-tiba. Pertama diminta resign karena satu hal. Kedua saya mengajukannya secara sadar dan sukarela.

Keduanya mengantarkan saya pada satu situasi yang tidak pasti pada awalnya. Anda bisa membayangkan, seorang laki-laki, kepala keluarga, harus kehilangan pekerjaan, sumber mata pencaharian keluarga. Berada di kondisi demikian, memperoleh pengertian dan dukungan dari pasangan adalah hal yang paling utama sekaligus hal yang paling sulit. Tidak mudah memang. Pasangan mana yang bisa segera berlapang dada menerima kenyataan bahwa kepala keluarga, suaminya, pasang hidupnya kehilangan pekerjaan.


Tapi itulah kehidupan, terkadang ia menghadirkan sebuah kejutan yang tampak buruk di mata kita, namun sesungguhnya Allah punya maksud yang baik dibalik peristiwa itu. Manusia berencana, Tuhan menentukan. Kehilangan pekerjaan bukan akhir dari segalanya, karena Tuhan memberikan kepada setiap manusia potensi akal yang dapat digunakan untuk berpikir mencari jalan keluar.


Setelah mampu menguasai diri (mental dan emosional), mampu menerima kenyataan, langkah berikutnya yang saya lakukan adalah mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri yang sempat porak-poranda agar menjadi utuh kembali. Afirmasi diri setelah berdoa dalam shalat, saya lakukan secara intesif. Bagi saya, proses ini membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan untuk recovery secara mental. Mungkin akan bervariasi lama waktunya bagi orang yang berbeda.


Langkahnya selanjutnya adalah bergerak mencari peluang, bertindak mencoba peluang baru yang ditemukan. Membuka Jobsdb, Karir.com, Jobstreet, Linkedin, membeli Kompas hari Sabtu. Melihat peluang lowongan pekerjaan yang ada. Secara aktif menyebar aplikasi lamaran ke Perusahaan-Perusahaan yang membuka lowonga. Dari sekian banyak aplikasi yang disebar, tentu ada hasilnya 1 atau 2 perusahaan mengundang saya wawancara. Hasilnya semua nihil, tidak menghasilkan. Namun saya tak habis akal, saya terus berupaya belajar membaca peluang yang ada melalui internet dan akhirnya saya menemukan jawabannya.

Ketika menghadapi kegagalan, saya sudah terlatih untuk segera bangkit kembali. Terjatuh, bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi, hingga akhirnya saya dapat menemukan formula yang tepat bagi diri saya. Apakah kembali bekerja di perusahaan atau kah mencoba berwirausaha. Pengalaman ini amatlah subyektif. Namun bagi saya pribadi, setelah peristiwa resign yang kedua, menjadi wirausahawa adalah pilihan saya. Alhamdulillah, saya baik-baik saja.

Sekali lagi saya katakan, PHK bukan akhir dunia. Justru dibalik peristiwa tersebut tersimpan peluang bagi anda untuk melompat lebih tinggi, diluar dugaan anda sebelumnya.

Selamat mencoba!


Salam!