Tampilkan postingan dengan label #Entrepeneur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Entrepeneur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2016

Keluar Dari Perlombaan Tikus

Hari ini , saya amat sangat bersemangat untuk berbagi kepada para pembaca tentang bagaimana caranya keluar dari perlombaan tikus.
Apa itu perlombaan tikus?



Perlombaan tikus adalah istilah yang digunakan Robert Kiyosaki untuk menggambarkan rutinitas kegiatan kita sehari-hari, terutama bagi yang masih bekerja di kantor. Mulai dari bangun pagi, mandi pagi, pergi bekerja, bekerja, pulang bekerja, sampai di rumah kembali. Kita lakukan hal ini terus-menerus, setiap hari, sepanjang hidup kita.

Bagi kita yang masih 'suci' hal tersebut di atas nampak wajar dan begitulah adanya hidup ini. Namun bagi sebagian orang yang berpikir, mereka memiliki pertanyaan, "Apakah tidak ada cara lain untuk menjalani hidup ini dan memenuhi segala kebutuhan kita?"
Disinilah pergolakan batin akan sangat mungkin terjadi.

Kabar baiknya, saat ini kita semua diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu hingga dapat keluar dari perlombaan tikus kita masing-masing, dan menjadi pribadi yang lebih independen. Caranya ada di depan kita, namun seringkali kita tidak mampu melihat untuk kesempatan itu dan melewatkannya begitu saja. Perkembangan teknologi internet mengakibatkan terjadinya percepatan bagi seseorang untuk dapat mengambil keuntungan dari keberadaan internet. Modal utama yang dibutuhkan menurut saya hanyalah rasa ingin tahu yang besar, keberanian mengambil keputusan untuk mencoba, dan segera menemukan 'coach' untuk membantu kita berhasil membangun bisnis kita sendiri.

Internet menjadi batas-batas teritorial menjadi tidak berarti. Saya dapat bekerja sama dengan seseorang dari belahan dunia manapun untuk membantu saya membangun bisnis yang saya inginkan.

Mau tahu lebih banyak mengenai bagaimana caranya?
Silakan mampir di sini:



Sampai bertemu di sisi yang lain!




  HashOcean

Kamis, 05 Mei 2016

Membangun Bisnis Eskrim Sendiri


Pada kesempatan ini saya ingin berbagi cerita tentang es krim Lezat Sehat. Es krim tersebut dibuat rumahan oleh seorang teman kuliah saya. Cukup surprise pada awalnya mengetahui beliau meluncurkan produk ini, namun saya selalu mendukung teman-teman yang terjun berwirausaha sejak awal, karena saya tahu mereka-mereka ini adalah orang-orang yang berjiwa positif.

Saya tidak mengetahui bagaimana latar belakang sesungguhnya produk ini akhirnya bisa meluncur ke pasar, namun saya akan bercerita dari sudut pandang yang saya lihat dan saya rasakan. Berawal dari kegelisahan sebagai orang tua yang tidak ingin anaknya mengkonsumsi jajanan sembarangan, sang ibu kemudian memutuskan untuk membuat sendiri jajanan untuk sang anak, dan jajanan itu berupa es krim. Setelah mencoba beberapa kali dan mendapati hasilnya cukup enak dan dapat dinikmati, mulailah kekuatan media sosial memberikan pengaruhnya. Saya yakin sampai hari ini kapasitas produksi es krim Lezat Sehat sudah meningkat dibandingkan pertama kali produksi dulu.


Dari kemasan yang saya terima, saya melihat sebuah upaya serius untuk membangun brand, memberikan tanggal kadaluarsa dan informasi tentang rasa es krim di permukaan cup-nya. Satu yang belum tersedia adalah daftar bahan baku dan hasil uji badan POM. Namun tanpa itu semua saya percaya bahan-bahan yang digunakannya adalah bahan-bahan yang halal dan layak konsumsi.

Langkah selanjutnya yang dapat dilakukan oleh es krim Lezat Sehat adalah membangun toko online yang bagus dengan memanfaatkan platform media sosial Facebook. Untuk mengoptimalkan hal ini dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan membutuhkan bantuan. Sebagai teman yang paham mengenai hal ini, dengan senang hati saya akan membantunya bila diminta.

Bagi warga Bandung yang menginginkan es krim Lezat Sehat, dapat memesannya melalui saluran WA di nomor 08122018382. Kisaran harga 5 ribu rupiah per cup, kecuali untuk rasa Keju yang spesial.

Masih takut memulai bisnis sendiri? Jangan takut. Mulai saja kawan.






HashOcean

Rabu, 04 Mei 2016

Berapa Modal Jadi Entrepreneur

Kalau ditanya berapa banyak uang yang saya keluarkan demi mendalami bidang yang bernama entrepreneur. Wah kalau saya buka secara blak-blakan informasinya, bisa jadi orang-orang pada takut untuk coba memulai bisnisnya sendiri. Bisa keder duluan. hahaha...

Membangun bisnis itu ternyata bukan hanya perkara modal uang, tetapi juga perkara modal sikap, modal kepercayaan diri dan juga modal partner yang sesuai. Ibarat mengumpulkan bola-bola naga dalam kisah dragon ball, hal itu membutuhkan waktu. Adakalanya seseorang memulai bisnisnya dalam kondisi kuat modal, namun masih lemah di modal-modal yang lain. Seiring berjalannya waktu modal-modal tersebut akhirnya dapat kita genapi satu-persatu. Sekali lagi hal itu membutuhkan waktu. Lamanya tentu bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.


Oleh karena itu kita sering mendapati quote-quote bijak di luar sana, bahwa kalau sudah melangkah jangan pernah berhenti. Karena sejatinya orang yang berani memutuskan untuk melangkah berusaha mandiri, pada akhirnya akan berhasil. Misterinya adalah kita tidak pernah tahu kapan dia akan berhasil, namun dia pasti berhasil bila tidak berhenti melangkah.

Bagi rekan-rekan pembaca yang baru memutuskan untuk terjun di dunia entrepreneur, jangan takut, jangan berhenti melangkah. Temukan 'coach' dengan segera, temukan bisnis yang anda suka, optimalkan modal yang anda punya. Bertindaklah terus-menerus, Insya Allah kesuksesan akan anda gapai dengan gemilang.

Salam.

HashOcean

Jumat, 29 April 2016

Cara Malas Membangun Bisnis Dengan Facebook

Kemarin sore saya berkesempatan belajar tentang "how to boost your business" di ajang Small Business Management yang digagas oleh School Of Shafira dengan investasi hanya Rp. 100.000,-. Mendengar brand "Shafira" pasti langsung terbayang wanita cantik yang berhijab. Iya betul, brand "Shafira" yang itu. ^_^

 

Materi dibawakan Kang Kunto Wiyoga, yang akrab dipanggil Kang Yoga, Strategic Director Panenmaya Digital.M

Kang Yoga memulai sharingnya dengan memaparkan informasi tentang fakta perubahan yang sedang terjadi saat ini. Perkembangan teknologi informasi yang sudah diujung jari, suka tidak suka mempengaruhi perilaku kita sehari-hari. Hasil risetnya menyatakan bahwa pasar Indonesia potensinya luar biasa, dan kencenderungan orang Indonesia lebih rela kehilangan uang daripada kehilangan waktu, memberi peluang tersendiri. Selanjutnya tergantung bagaimana kita mengemas produk / layanan kita.
Berikut beberapa tips dari Kang Yoga, cara malas untuk membangun 'Online Presence'.
1. Memulai dengan Facebook.

Facebook dan Instagram adalah platform yang tepat untuk memulai membangun 'online presence'. Bicara presentasi, maka image, gambar, foto, grafis menjadi sesuatu hal yang penting. Jangan kompromi dengan hal itu.

Gunakan fitur Page untuk membuat 'aksi' anda, lengkapi data agar memudahkan konsumen untuk menemukan anda. Bila kita memiliki lokasi yang menetap, deskripsikan lokasi tersebut dengan jelas disertai dengan map-nya, selanjutnya Facebook akan membantu merekomendasikan tempat bisnis anda kepada pengguna Facebook lain yang relevan, yang berada di dekat tempat tersebut.

Untuk meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap Page yang kita bangun, kita dapat mengupayakannya agar menjadi Certified.

2. Membangun Etalase

Di dunia maya sudah tersedia berbagai etalase siap pakai yang dapat dimanfaatkan oleh para business-startup. Tantangan selanjutnya adalah memilih platform yang sesuai agar dapat mencapai tujuan bisnis kita secara efektif. Facebook membantu kita untuk itu, dengan menyediakan berbagai fitur-fitur yang dapat dimanfaatkan, di-customize, sesuai kebutuhan.




3. Respon Yang Cepat



Konsumen Indonesia sangat sensitif dengan kecepatan layanan, oleh karena itu manfaatkan fitur-fitur yang telah disiapkan oleh Facebook agar dapat menjaga kecepatan layanan dengan optimal.

Konsumen Indonesia masih sangat suka bertanya sebelum membeli sesuatu, maka fitu Chat akan sangat bermanfaat sebagai gerbang penjualan, setelah konsumen masuk ke toko dan melihat-lihat etalase kita.

Manfaatkan fitur instant-replay dan saved-replay yang telah tersedia.

4. Kemasan adalah segalanya



Menjual sesuatu, baik itu produk maupun jasa, membutuhkan kemasan yang sesuai agar konsumen tertarik untuk membeli produk atau jasa yang kita tawarkan. Untuk itu Facebook telah menyediakan fitur-fitur sepert slideshow dan canvas, untuk membantu kita mengemas produk dan jasa yang kita akan tawarkan.

Siapkan cerita untuk menjelaskan apa dan bagaimana produk atau jasa kita dapat menjawab permasalahan yang dihadapi oleh konsumen.

5. Promosi Efektif

Promosi yang efektif, tidak berarti harus menghabiskan budget yang besar. Manfaatkan ide-ide sederhana, bahkan 'bodoh' untuk dapat membuat promosi yang 'standout'. Lagi-lagi visualisasi menjadi salah satu faktor yang penting untuk menarik minat konsumen melirik produk atau jasa kita.

Nah, bagi teman-teman yang ingin mendalami seluk-beluk membangun bisnis dengan memanfaatkan Facebook, kita dapat belajar bersama-sama di Facebook.com/blueprint. Pilih modulnya, pelajari isinya, sesuaikan dengan kecepatan belajar teman-teman.


Sekian sharing hasil belajar saya bersama Kang Yoga di event School Of Shafira kemarin sore.

Salam!
















Senin, 14 Maret 2016

Digital Entrepreneur Versi Saya

Saya sudah tertarik dengan Entrepreneur atau kewirausahaan sejak masih duduk di bangku SMA. Di bangku kuliah pun ketika dihadapkan pada tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya pun memilih untuk mengambil KKN Kewirausahaan untuk belajar berwirausaha dengan magang di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di negeri ini.

Pemahaman saya tentang Entrepreneur / wirausaha ketika itu adalah seseorang yang punya bisnis sendiri dan mampu menghasilkan uang dari sana. Bentuk bisnisnya apa, terus terang saya tidak tahu. Bagaimana proses bisnisnya, saya juga tidak tahu. Dari mana uangnya muncul, apalagi. Namun demikian saya tetap tertarik dengan dunia Entrepreneur.

Setelah saya terjun di dunia kerja pun, dunia Entrepreneur selalu mengganggu konsentrasi saya, memanggil-manggil untuk saya datangi. Akhirnya keputusan untuk menjadi seorang Entrepreneur saya ambil di bulan Agustus 2014 lalu. Satu hal yang saya paling suka dalam Entrepreneur, tidak ada sesuatu yang pasti. Semua bisa di-create sesuai dengan kemauan si pemilik ide bisnis. Mulai dari nama perusahaan, visi, misi dan proses bisnis, semua bebas dibuat oleh si pemiliknya.

Nama Masjawski Free Enterprise muncul di kepala saya sejak tahun 2003-an. Nama itu terinspirasi setelah saya belajar dalam sebuah komunitas bernama Network 21, yang senantiasa menyuarakan semangat free enterprise ketika itu. Dari nama itu saya belum tahu akan berbentuk apa usaha saya nantinya, yang paling penting saya tulis saja terlebih dahulu. Untuk melihat detail apa yang saya lakukan di Masjawski Free Enterprise, anda bisa mampir ke sini: https://www.linkedin.com/in/wijanarko-dwi-utomo-59717430?trk=nav_responsive_tab_profile

Seiring perjalanan waktu, bertambahnya pengalaman dan kesempatan belajar, akhirnya saya menemukan bentuk kewirausahaan yang ingin saya tekuni. Ia saya beri naman Digital Entrepreneur. Istilah Digital Entrepreneur yang umum di masyarakat saat ini erat kaitannya dengan Start-Up, Data Center, Coding, Cloud, Big Data, dan hal-hal 'Techy' lainya. Definisi Digita Entrepreneur versi saya cukup sederhana bekerja mandiri dengan memanfaat teknologi (komputer dan internet) yang bisa dilakukan dari rumah. Itu definisi Digital Entrepreneur versi saya.

Bagaimana dengan anda?

Silakan dibuat versi anda masing-masing.

Salam!

HashOcean

Rabu, 02 Maret 2016

Time Is Money

Ketika duduk di bangku SD, saya sering melihat sebuah hiasan dinding yang bertuliskan "Time Is Money". Waktu adalah uang. Apa maksud sebenarnya dari tulisan itu? Apapun maknanya, begini penjelasannya menurut saya.

Dalam hidup, terkadang kita membiarkan waktu berlalu begitu saja, dengan melakukan hal-hal yang kurang bermakna. Misalnya nongkrong tanpa tujuan, begadang sekedar senang-senang, dan lain sebagainya.

Menjelang usia saya ke 37 tahun, di 9 tahun terakhir ini saya sering berpikir, "Apa yang harus saya lakukan terhadap waktu?" Menghabiskannya sebagian besar untuk bekerja di kantor, atau menghabiskan sebagian besarnya di rumah bersama keluarga namun tetap berfungsi sebagai Imam, Kepala Keluarga yang mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidup keluarga?

Pernyataan yang kedua menggugah minat dan perasaan saya.
"Ya, saya lebih menginginkan untuk menghabiskan sebagian besar waktu saya di rumah bersama keluarga, tanpa kekurangan satu apapun."

Lalu bagaimana caranya?
Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, saya ingin berbagi kisah perjalanan hidup saya. Tahun 2009, Allah mempertemukan saya dengan seorang Motivator termuda Indonesia, Bong Chandra, melalui kebaikan hati seorang kolega, almarhum Mas Hari.
(Semoga seluruh amal ibadah Mas Hari diterima oleh Allah SWT. Aamiiin.)
Kondisi diri saya ketika itu baru saja kehilangan pekerjaan untuk pertama kali dan sedang menata diri. Ajakan almarhum Mas Hari untuk ikut sebuah seminar berjudul "Miracle of Life" yang dibawakan oleh Bong Chandra, saya terima dengan sukacita tanpa sedikit pun mengeluarkan uang dari kantong saya pribadi.

Di seminar tersebut ada satu materi yang masih saya ingat sampai saat ini terkait dengan "Time Is Money". Bong Chandra mengatakan bahwa, "Mulai sekarang silakan coba beri nilai dari waktu yang anda miliki. 1 jam berapa Rupiah? Tidak. Jangan Rupiah. 1 jam berapa Dollar?"
Saya ternganga di kelas ketika itu. Rasanya membayangkannya saja saya belum berani. Pada akhirnya saya menemukan jawaban saya sendiri setelah 7 tahun dari saat materi tersebut disampaikan.

Saya mulai berani mencoba memberi nilai pada waktu saya yang saya miliki dengan dollar. 1 jam = $115, atau setara dengan kurang lebih 1,5 juta Rupiah. Pertimbangannya sederhana saja, dengan nilai tersebut untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup satu bulan, saya hanya perlu bekerja 10 jam saja per bulan, dan sisa waktunya dapat saya gunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermakna.

Sebenarnya apa yang terjadi ketika pikiran kita berani memberi nilai pada waktu yang kita miliki? Mental blok kita baru saja dirobohkan. Pemahaman yang selama ini kita miliki, dilawan, dihancurkan. Berapa banyak dari kita yang membawa sebuah pemahaman terhadap sesuatu (selain Agama) dalam waktu yang lama. Sementara seiring dengan perjalanan waktu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebuah pemahaman tersebut dapat berubah menyesuaikan diri dengan kondisi terkini.

Perhatikan beberapa pernyataan di bawah ini:

Saya adalah karyawan. Saya bosan dan jenuh dengan pekerjaan saya,
Jika bosan dan jenuh, silakan cari tantangan yang tidak membuat bosan dan jenuh.

Gaji saya tidak mencukupi, hutang saya banyak.
Jika gaji tidak mencukup, silakan cari peluang usaha untuk meningkatkan penghasilan anda.
Sesungguhnya kita punya kuasa untuk itu namun sering kali mental blok menghalangi kita berbuat sesuatu yang mampu menghasilkan lebih.

Mental blok ini sesungguhnya penghambat melejitnya potensi seseorang. Kita sering kali terlalu takut untuk mencoba, terlalu skeptis terdapat ide-ide baru, terlalu menghindari resiko sehingga selalu berada di zona aman dan nyaman yang notabene adalah "Status Quo".

Jadi kawan-kawan, mulai sekarang silakan coba mulai beri nilai dari waktu yang anda miliki. Nilai yang anda berikan terhadap waktu anda, akan mempengaruhi tindakan yang anda lakukan, dan pada akhirnya akan mempengaruhi hasil yang akan anda capai.

Selamat mencoba.

Salam!


HashOcean

Jumat, 26 Februari 2016

Pengalaman Berbagi Di Kelas Inspirasi




Tanggal 24 Februari 2016 lalu merupakan #HariInspirasi bagi kami para pengajar di #KelasInspirasi Bandung 4. Jujur, saya pribadi sangat antusias mengikuti kegiatan ini karena saya ingin turun tangan langsung berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di tingkat dasar. Ini adalah pengalaman pertama, namun sekaligus pengalaman yang membuat saya ketagihan ingin mengulanginya di lagi di tahun depan atau di kesempatan kelas inspirasi berikutnya.

Bagi saya, memiliki kesempatan bertemu dengan teman-teman baru, sesama relawan inspirator sungguh sangat memberikan suplai energi positif yang melimpah ruah. Saya bersyukur sekali. Kami datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun memiliki satu tujuan yang sama. Disinilah saya belajar bahwa seharusnya sebuah organisasi bergerak untuk mencapai tujuan itu seperti gerakan Indonesia Mengajar dengan Kelas Inspirasinya. Kami semua bergerak bersama-sama dengan antusias tanpa mengharap imbalan materi apapun. Kami semua bersedia berkorban untuk mempersiapkan materi ajar terbaik yang masing-masing dari kami bisa persiapkan.

Mungkin sebagian dari kita pernah sekelebat bermimpi ingin menjadi super hero atau pahlawan. Akhirnya saya bisa merasakan perasaan itu ketika berhasil menuntaskan tugas sebagai inspirator di #HariInspirasi. Ya Allah... akhirnya saya mampu melakukan sesuatu untuk menyalakan api harapan di benak adik-adik kami, generasi penerus bangsa ini. Sebuah perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Pada kesempatan kelas inspirasi kali ini saya mencoba berbagi pengalaman saya ketika menempuh pendidikan sarjana Psikologi di Universitas Padjadjaran, apa manfaat yang saya dapat dari ilmu yang saya pelajari dan profesi pilihan saya sebagai Digital Entrepreneur. Sebuah profesi yang relatif masih baru dan menurut saya sangat layak untuk saya bagikan kepada anak-anak kelas inspirasi.

Saya tidak bisa cerita lebih banyak lagi, saya sarankan bagi para pembaca, coba ambil kesempatan untuk bergabung dengan Kelas Inspirasi berikutnya. Silakan pilih kota yang nyaman untuk Anda berpartisipasi. Saya malah punya impian baru, saya ingin mengikuti #KelasInspirasi di kota lain, seperti kota Merauke misalnya. Insya Allah, suatu saat nanti saya akan lakukan hal itu.

Kelas Inspirasi 'Bangun Mimpi Anak Indonesia'.




HashOcean

Selasa, 16 Februari 2016

Tinjauan Psikologi: Seseorang Yang Kehilangan Pekerjaan

Ide tulisan ini muncul karena di awal tahun 2016 ini saya banyak membaca berita tentang "Pemutusan Hubungan Kerja" di banyak perusahaan terkemuka. Hal yang disoroti adalah bagaimana tindakan pemerintah, bagaimana reaksi karyawan yang biasanya diekpresikan dengan demonstrasi menuntut ini-itu ke pemerintah, namun jarang sekali yang menuliskan tentang apa yang dapat dilakukan untuk membantu seseorang yang kehilangan pekerjaan tersebut untuk bangkit lagi.

Pada kesempatan ini, saya akan melakukannya. Dalam kurun 9 tahun terakhir pengalaman saya bekerja di perusahaan, saya sudah mengalami 2 kali kehilangan pekerjaan. Bukan sebuah pengalaman yang menyenangkan, namun saya mencoba kilas balik apa saja yang saya hayati secara psikologis ketika menghadapi hal itu.

Kehilangan pekerjaan menurut saya merupakan salah satu 'catasthropic event', bencana kehidupan atau namun belum sampai pada kiamat kecil. Mengapa? Karena kalau sudah terjadi kiamat kecil, berarti kehidupan seseorang sudah terhenti alias sudah meninggal. hehehe...

Bencana kehidupan ini tentu akan mengguncang kondisi psikologis seseorang. Pada awalnya ketika mencoba masuk dunia kerja, saya adalah pribadi yang optimis dan terbuka, selalu ingin mempelajari hal baru dan bersedia bekerjasama dalam sebuah kelompok. Pada saat saat mengalami kehilangan pekerjaan yang pertama, saya mengalami rasa TAKUT dan CEMAS yang luar biasa tentang masa depan saya yang tiba-tiba menjadi gelap saat itu. Saya membutuhkan waktu menenangkan diri. Disaat seperti ini dukungan penuh dari seorang istri amatlah dibutuhkan.

Setelah mampu menguasai diri, saya pun mencoba untuk mengumpulkan rasa PERCAYA DIRI yang sempat hancur. Harus memompa lagi SEMANGAT dan KEBERANIAN untuk mencoba menebarkan surat lamaran pekerjaan agar dilirik oleh Perusahaan. Tidak ada jaminan bagi saya, perlu berapa lama hingga saya mendapatkan kesempatan untuk janji temu wawancara. Namun pengalaman saya di saat kehilangan pekerjaan saya yang pertama, saya hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan kembali. Patut diduga hal ini terjadi karena usia saya masih dibawah 30 tahun ketika itu.

Hal-hal yang saya coba pelajari kembali saat itu adalah menjaga pikiran selalu positif, memperbaiki Curiculum Vitae yang saya miliki dan berlatih untuk menghadapi sesi wawancara agar dapat diterima bekerja oleh perusahaan.

Pada momen kehilangan pekerjaan yang kedua, usia saya sudah diatas 35 tahun. Banyak perusahaan yang saya lamar sudah tidak melirik saya lagi. Namun saya tidak merasa kecil hati, bahkan belakangan saya merasa ini adalah berkah dari NYA. Ya saat ini saya merasa bersyukur saya tidak dilirik oleh perusahaan-perusahan tersebut karena dengan demikian saya memiliki kesempatan penuh untuk mengeksplorasi potensi kemampuan diri saya. Tekad saya sudah bulat, saya ingin menjadi seorang wirausahawan alias Entrepreneur, lebih spesifik lagi menjadi seorang Digital Entrepreneur.

Jadi, kalau anda kehilangan pekerjaan yang harus anda lakukan adalah:
1. Kendalikan rasa takut dan kecemasan anda.
2. Bangun kembali rasa percaya diri anda, dengan membaca buku biografi atau dengan melihat video motivasi yang banyak tersedia di Youtube.
3. Pompa lagi semangat, bangun optimisme di dalam diri.
4. Anda harus punya keberanian untuk bertindak, mengubah kondisi anda saat ini.

Demikian pengalaman dan penghayatan yang pernah saya alami ketika kehilangan pekerjaan dulu.

Selamat berkarya!

Salam!


HashOcean

Senin, 08 Februari 2016

Mudahnya Menjadi Pengusaha

14073013902037163609

Kali ini saya ingin sekali berbagi tentang kesadaran betapa mudahnya hidup di zaman sekarang ini. Mengapa mudah?

Mudah, pertama karena saat ini kita hidup di zaman, dimana negara kita, Republik Indonesia, sudah merdeka. Hari ini Pembaca bisa melihat bagaimana kondisi saudara-saudara kita yang hidup di daerah konflik di berbagai belahan dunia. Bisa kita rasakan betapa hidup mereka senantiasa dihantui perasaan tidak aman akan ancaman.

Kedua perkembangan teknologi di bidang apapun membuat interaksi antar manusia semakin mudah, cepat dan murah. Proses pertukaran informasi, bahkan transaksi bisnis pun dapat dilakukan dengan cepat dan berada dalam genggaman. Sesuatu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan 10 atau 20 tahun yang lalu.

Kesadaran seseorang untuk menjadi wirausaha, semakin meningkat akhir-akhir ini. Namun kesadaran saja tidak cukup, karena untuk benar-benar menjadi wirausahawan seseorang harus berani mengambil sebuah keputusan dan bekerja mewujudkan hal itu. Walau demikian Pembaca tidak perlu khawatir karena segala sumber daya yang diperlukan untuk berwirausaha saat ini sudah ada di dalam genggaman kita semua.

Keberadaan internet memberi perubahan yang signifikan. Saat ini saya sudah melihat betapa anak usia belasan tahun sudah memiliki kesadaran tentang siapa dirinya, apa yang dia mau, dengan internet (Youtube) sebagai salah satu sumber referensi belajarnya. Melihat fakta itu, saya menjadi semakin yakin bahwa di masa depan untuk menjadi seorang manusia yang seutuhnya, tidak perlu lagi mendapat legitimasi dari sebuah lembaga bernama institusi pendidikan, karena pada dasarnya ilmu-ilmu itu kini sudah terbuka sifatnya, dan bisa diakses siapa saja dan kapan saja.

Kembali lagi ke topik wirausaha, sekarang adalah saat yang tepat untuk memulai perjalanan Anda. Saya yakin dan percaya, jika Anda berani mengambil keputusan untuk menjadi seorang wirausahawan, kehidupan Anda selanjutnya tidak akan pernah sama lagi.

Bagaimana caranya?

Disinilah dibutuhkan sebuah sikap mental yang positif dan terbuka terhadap segala informasi yang membludak di dunia maya. Kemampuan kita untuk memilah, memilih, dan menguji informasi demi informasi diperlukan guna mendapatkan sebuah formula yang Anda cari. Sikap mental negatif, sama sekali tidak membantu Anda untuk dapat mengubah hidup dan kehidupan Anda di masa depan.

Orang mengatakan Internet adalah sumber uang. Kalau Anda meyakini hal itu, niscaya Anda akan dapat mengambil manfaat sebagaimana keyakinan Anda. Demikian pula sebaliknya, jika Anda meyakini bahwa Internet adalah sumber kebohongan, maka Anda pun benar-benar akan mendapatkan Internet demikian adanya.

"Sesungguhnya Allah berfirman: "Aku sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku." [HR.Turmudzi]


Mari kita memanfaatkan teknologi untuk kehidupan yang lebih baik. Wallahu'alam.

Salam!

Minggu, 07 Februari 2016

Hikmah Dibalik Keputusan Berwirausaha

Mengambil keputusan untuk menjadi seorang Wirausahawan adalah sebuah keputusan yang berat. Terutama bagi Saya pribadi. Keputusan yang teramat personal. Tidak semua orang, teman, keluarga atau bahkan pasangan hidup bisa memahami apa yang Saya lihat melalui keputusan ini.

Saya adalah seseorang yang dibesarkan dalam keluarga Pegawai Negeri. Tidak ada role-model Wirausahawan di keluarga Saya, kalaupun ada bukan seorang figur yang sukses yang bisa Saya contoh. Namun entah mengapa dalam jiwa, sejak kelas 1 SMA, Saya sudah memiliki visi kehidupan yang ingin Saya jalani 5 - 10 tahun ke depan. Sebuah kehidupan yang nyaman menurut Saya, karena Saya dapat melakukan hal-hal yang Saya sukai, tanpa perlu memikirkan dari mana Saya harus mencari penghasilan. Pendapatan secara aktif mendatangi rekening Saya, dan Saya bisa fokus melakukan kebaikan dalam hidup ini, seperti beribadah, menjalin tali silaturahim dengan sesama.

Memutuskan untuk menjadi seorang wirausahawan, adalah sebuah keputusan terbesar kedua dalam hidup Saya setelah menikah. Keputusan ini seperti mempertaruhkan seluruh hidup Saya untuk tidak lagi bergantung dari gaji bulanan yang Saya dapat dari tempat bekerja. Menjadi seorang wirausahawan bagi Saya berarti saya telah menyerahkan seluruh diri dan hidup ini kepada Sang Khalik, pemilik Alam Raya ini. Sungguh tidak ada keraguan di dalamnya, bahwa dari setiap aktifitas yang Saya lakukan dari hari ke hari untuk membangun usaha, suatu saat akan berhasil indah, memberi manfaat untuk diri Saya pribadi, keluarga dan juga orang-orang di sekitar Saya.

Usaha pertama Saya adalah menyewakan rumah pertama yang Saya beli dengan memanfaatkan KPR. Rumah mungil tipe 45 yang sudah Saya renovasi sehingga memiliki 3 kamar tidur, 2 kamar mandi dan daya listrik 2200 Watt. Alhamdulillah sejak pertama diiklankan di salah satu forum jual beli yang terkenal di Indonesia, rumah Saya diminati penyewa.

Usaha kedua Saya adalah sebuah warung yang Saya beri nama Kedai Ananda. Bertempat di sebuah kos-kosan milik ibu mertua, kedai ini menyediakan berbagai kebutuhan untuk anak-anak kos yang tinggal di sana. Margin keuntungannya tidak terlalu besar, namun cukup untuk mendatangkan tambahan penghasilan bagi Saya dan keluarga.

Usaha ketiga Saya adalah loket pembayaran listrik online, yang juga saya beri nama Loket Ananda. Melayani pembayaran listrik dan telpon di lingkungan sekitar rumah Saya. Memanfaatkan koneksi internet yang ada di rumah dan juga aplikasi yang disediakan gratis oleh tempat Saya dulu bekerja.

Usaha keempat Saya adalah produk asuransi syariah. Usaha ini memiliki misi memberikan edukasi kepada teman-teman dan masyarakat pada umumnya tentang pentingnya memiliki polis asuransi demi masa depan yang lebih baik. Alhamdulillah, nasabah saya senantiasa bertambah dari waktu ke waktu, dan saya mendapatkan penghasilan pasif dari usaha ini.

Usaha kelima Saya adalah peternakan domba, yang Saya beri nama Peternakan Domba Ananda. Bermodal 4 ekor domba betina dewasa, saat ini sudah bertambah jumlahnya, dan akan bertambah di masa yang akan datang. Suatu saat Saya memiliki kesempatan untuk mengakuisisi sebuah lahan dengan luas 84 meter persegi, yang kemudian saya dedikasikan menjadi kandang untuk peternakan domba Ananda. Bermitra dengan rekan-rekan yang memiliki visi yang sama, saat ini kami telah mengelola kurang lebih 20 ekor domba, baik jantan maupun betina.

Sekarang Saya berada di titik ini, titik dimana Saya mulai membangun visi Saya dari hari ke hari tanpa mengorbankan waktu bersama keluarga. Kapanpun keluarga Saya membutuhkan, Saya akan berada di sana. Sungguh sebuah pengalaman yang tidak dapat dibeli dengan uang, priceless.  Jujur, hasil usaha Saya belum apa-apa jika dibandingkan dengan para konglomerat yang ada di negeri ini. Tetapi Saya bisa melihat hasil usaha Saya bertumbuh dari waktu ke waktu, dan yang lebih penting Saya merasa sangat berarti sebagai pribadi, karena dapat bermanfaat bagi orang lain.

Saya merasa lebih berdaya, Saya dapat mengerahkan seluruh kemampuan Saya untuk meraih impian Saya. Dan bahkan Saya mampu mengatur berapa nominal uang yang Saya ingin terima minggu depan, bulan depan atau bahkan tahun depan sekalipun. Saya memegang kendali. Rasanya hal inilah yang paling Saya sukai ketika mengambil keputusan ini. Memegang kendali.

Sabtu, 06 Februari 2016

Biarkan Uang Anda Bekerja Untuk Anda



Bagi para pembaca yang suka membaca buku-buku tentang perencanaan keuangan atau investasi, pasti pernah mendengar jargon "Biarkan Uang Anda Bekerja Untuk Anda". Saya pribadi sudah sering mendengar jargon ini, dan rasanya sih saya sudah mengerti, namun kok saya merasa belum melihat hasilnya ya?

Pertama kali mendengar jargon tersebut. Saya berpikir bahwa untuk membiarkan uang saya bekerja untuk saya, maka hal pertama yang saya perlu saya wujudkan adalah memiliki uang yang mampu saya tukar dalam wujud property, agar dapat saya sewakan kepada orang lain. 9 tahun saya bekerja, berusaha menabung semampunya, namun saya belum bisa memiliki property yang bisa saya sewakan sehingga saya bisa mendapat penghasilan bulanan yang mencukupi seluruh kebutuhan saya dari sana.
Alhamdulillah, saya sudah punya rumah, tapi masih berhutang ke Bank. Sampai hari ini saya masih membayar cicilannya.

Seiring berjalannya waktu, berdasarkan informasi yang datang silih berganti, saya pun mencoba untuk merubah pemahaman saya terhadap jargon tersebut. Saya mulai berpikir bahwa yang dimaksud dengan uang bekerja adalah dengan membiarkan uang kita keluar dari dompet kita, terserah mau ke mana, yang penting uang tersebut jangan berdiam di dompet atau rekening kita. Hmm.. mungkin benar, saya coba lakukan untuk beberapa waktu, dan hasilnya uang yang saya keluarkan belum tentu kembali teratur seperti waktu bekerja dan menerima gaji. Wah jangan-jangan jargon tersebut fatamorgana semata. Saya mulai berpikir pesimis.

Tunggu, saya pun mencoba merubah kembali pemahaman saya, hingga saya sampai pada pemahaman bahwa dari setiap uang yang saya miliki, saya konversi menjadi bitcoin dan dari bitcoin yang saya miliki dengan menggunakan sebuah sistem yang tersedia online di internet, saya melakukan pertukaran bitcoin dengan orang lain. Awalnya saya sama sekali tidak mempercayai sistem ini. Skema Ponzi dan SCAM sudah terbayang di kepala saya yang terbiasa dengan aturan yang konservatif. Namun saya membandel. Saya memutuskan untuk mempercayai sistem tersebut, dan hasilnya, voila!!!

Uang saya benar-benar bekerja untuk saya. Saya bisa dengan leluasa melepaskan pekerjaan tetap saya dan hidup bergantung sepenuhnya dari uang yang bekerja untuk saya. Pasti para pembaca penasaran. Atau mungkin akan komentar skeptis, ah mana mungkin.

Nah, disinilah letak keindahannya.
Para pembaca mungkin masih ingat dengan pernyataan dari sebuah hadits atau kitab suci, yang menyatakan bahwa "Allah / Tuhan sebagaimana prasangka hambanya." Kalau kita berprasangka baik kepada Allah / Tuhan maka DIA benar-benar baik kepada kita. Begitu pun sebaliknya, jika kita berprasangka buruk kepada Allah / Tuhan maka DIA pun benar-benar buruk kepada kita. Semua terserah kepada diri kita masing-masing untuk memutuskan penghayatan yang mana, baik atau buruk.

Jadi kesimpulan dari tulisan ini adalah kita dapat membiarkan uang kita bekerja untuk kita dan kita menjadi Tuan bagi kehidupan yang kita jalani, bukan sebaliknya.
Semua itu hanya masalah PERSEPSI saja.

Salam!

HashOcean

Kamis, 04 Februari 2016

Bila Saya di-PHK


Awal tahun 2016 ini, saya dikejutkan dengan berita tentang "Ford Tarik Diri dari Indonesia", pada tanggal 25 Januari 2016.
http://mediaindonesia.com/news/read/25970/ford-tarik-diri-dari-indonesia/2016-01-25

Hari ini seorang kawan membagikan berita tentang dua perusahaan elektronik raksasa asal Jepang, Panasonic dan Toshiba menutup tiga pabriknya di Indonesia dalam kurun waktu Januari - Maret 2016. Lebih dari 2.500 karyawan dipastikan menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Tidak hanya itu, di belahan dunia yang lain, tersiar kabar bahwa YAHOO mulai mengurangi karyawannya dan menjual aset-asetnya.

Pertanyaannya, "Siapa yang siap di-PHK tiba-tiba?"
Mungkin sebagian besar pembaca yang karyawan akan mengatakan tidak akan siap bila terkena PHK tiba-tiba. Mungkin saya pun akan memberi jawaban yang sama, bila di-PHK tiba-tiba.

Namun saya punya pengalaman yang kurang lebih mirip dengan di-PHK tiba-tiba. Selama 9 tahun pengalaman saya bekerja, saya mengalami 2 kali resign tiba-tiba. Pertama diminta resign karena satu hal. Kedua saya mengajukannya secara sadar dan sukarela.

Keduanya mengantarkan saya pada satu situasi yang tidak pasti pada awalnya. Anda bisa membayangkan, seorang laki-laki, kepala keluarga, harus kehilangan pekerjaan, sumber mata pencaharian keluarga. Berada di kondisi demikian, memperoleh pengertian dan dukungan dari pasangan adalah hal yang paling utama sekaligus hal yang paling sulit. Tidak mudah memang. Pasangan mana yang bisa segera berlapang dada menerima kenyataan bahwa kepala keluarga, suaminya, pasang hidupnya kehilangan pekerjaan.


Tapi itulah kehidupan, terkadang ia menghadirkan sebuah kejutan yang tampak buruk di mata kita, namun sesungguhnya Allah punya maksud yang baik dibalik peristiwa itu. Manusia berencana, Tuhan menentukan. Kehilangan pekerjaan bukan akhir dari segalanya, karena Tuhan memberikan kepada setiap manusia potensi akal yang dapat digunakan untuk berpikir mencari jalan keluar.


Setelah mampu menguasai diri (mental dan emosional), mampu menerima kenyataan, langkah berikutnya yang saya lakukan adalah mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri yang sempat porak-poranda agar menjadi utuh kembali. Afirmasi diri setelah berdoa dalam shalat, saya lakukan secara intesif. Bagi saya, proses ini membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan untuk recovery secara mental. Mungkin akan bervariasi lama waktunya bagi orang yang berbeda.


Langkahnya selanjutnya adalah bergerak mencari peluang, bertindak mencoba peluang baru yang ditemukan. Membuka Jobsdb, Karir.com, Jobstreet, Linkedin, membeli Kompas hari Sabtu. Melihat peluang lowongan pekerjaan yang ada. Secara aktif menyebar aplikasi lamaran ke Perusahaan-Perusahaan yang membuka lowonga. Dari sekian banyak aplikasi yang disebar, tentu ada hasilnya 1 atau 2 perusahaan mengundang saya wawancara. Hasilnya semua nihil, tidak menghasilkan. Namun saya tak habis akal, saya terus berupaya belajar membaca peluang yang ada melalui internet dan akhirnya saya menemukan jawabannya.

Ketika menghadapi kegagalan, saya sudah terlatih untuk segera bangkit kembali. Terjatuh, bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi. Jatuh, bangkit lagi, hingga akhirnya saya dapat menemukan formula yang tepat bagi diri saya. Apakah kembali bekerja di perusahaan atau kah mencoba berwirausaha. Pengalaman ini amatlah subyektif. Namun bagi saya pribadi, setelah peristiwa resign yang kedua, menjadi wirausahawa adalah pilihan saya. Alhamdulillah, saya baik-baik saja.

Sekali lagi saya katakan, PHK bukan akhir dunia. Justru dibalik peristiwa tersebut tersimpan peluang bagi anda untuk melompat lebih tinggi, diluar dugaan anda sebelumnya.

Selamat mencoba!


Salam!


Selasa, 02 Februari 2016

Persiapan Menjadi Seorang Wirausahawan

Beberapa tulisan Saya selalu mendorong pembaca untuk segera mencoba berwirausaha. Kali ini Saya ingin berbagi tentang beberapa hal penting yang Saya rasakan ketika memutuskan untuk berwirausaha secara total. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Mari kita mulai.

Berwirausaha berarti menghadapi sebuah situasi dinamis, tidak menentu, atau orang bilang situasi 'roller-coaster'. Naik-turun bikin hati berdebar-debar. Pertanyaan Saya untuk Anda para pembaca, "Sudah siapkah diri Anda menghadapi situasi yang demikian?"

Sudah Anda memiliki mental pejuang, yang pantang menyerah, ketika menghadapi tantangan dan persoalan ketika menjalankan peran sebagai seorang wirausahawan? Kesiapan mental adalah satu hal yang terpenting menurut Saya, karena kesiapan mental menentukan langkah keberhasilan selanjutnya. Jika mental belum siap, Saya bisa pastikan ketika masalah datang, belum terpecahkan, Anda akan mundur teratur dan tidak berani mencoba melangkah untuk mencari solusinya. Dari mana kesiapan mental dapat dicapai? Berdasarkan pengalaman Saya dari lingkungan pergaulan, dari buku-buku biografi wirausahawan sukses, dari buku-buku motivasi, dan juga dari pengalaman pribadi setelah mencoba melakukan serangkaian upaya untuk berwirausaha. Jika kesiapan mental sudah terbentuk, maka kita melangkah pada tahap selanjutnya.

Sudahkah pasangan Anda siap mendukung keputusan untuk berwirausaha? Jika Anda masih lajang, Anda beruntung karena setelah mental Anda siap, Anda tinggal meminta dukungan dari orang tua. Saya percaya doa dari kedua orang tua kita sangat makbul. Jika restu orang tua sudah didapat, maka melangkahlah, Insya Allah hasilnya akan baik nanti. Jika Anda sudah menikah, restu dan dukungan pasangan amat sangat berarti dalam setiap langkah Anda membangun usaha yang Anda impikan. Dukungan itu dapat berupa bantuan secara aktif dari pasangan, atau sekedar memberikan ruang yang bebas bagi Anda untuk mencoba membangun usaha yang Anda impikan. Jika restu pasangan sudah didapat, melangkahlah, Insya Allah hasilnya akan baik nantinya.

Memutuskan untuk berwirausaha, berarti Anda harus meningkatkan kemampuan Anda dalam hal-hal berikut:
1. Kemampuan pengaturan keuangan, kartu kredit.
2. Pengetahuan tentang cara kerja uang dan institusi keuangan.
3. Kemampuan komunikasi.
4. Kemampuan interpersonal / kemampuan membangun hubungan dengan orang lain.
5. Wawasan tentang wirausaha itu sendiri, dapat melihat peluang usaha yang banyak tersedia, siap melakukan tindakan yang diperlukan agar usaha Anda dapat berjalan.

Dalam keseharian Anda dituntut untuk dapat membaca pola arus kas Anda pribadi, kapan Anda harus membayar tagihan-tagihan Anda, dan kapan Anda harus menerima uang agar semua tagihan bulanan dapat terbayarkan tepat waktu. Menghadapi situasi yang sulit, Anda pun dituntut harus memiliki rencana darurat agar dapat keluar dari situasi sulit tersebut. Situasi yang sulit adalah kondisi yang tidak nyaman, jantung Anda harus kuat, karena jantung berdetak lebih kencang pada situasi ini. Makanya Saya makan teratur, banyak minum air putih, minum multivitamin dan berusaha olahraga secara teratur setiap hari, agar tubuh sehat selalu.

Saya selalu berpegang pada dua hal. Pertama, Allah selalu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Saya selalu berusaha melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan Saya dari sudut pandang yang positif. Bukannya Saya tidak marah atau kesal jika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan Saya, tapi seringkali bersikap pasrah jauh memberikan ketenangan. Serahkan hasilnya pada Allah setelah kita berusaha sekuat tenaga. Allah tidak pernah tidur. Kedua, dibalik kesulitan yang kita hadapi, selalu ada kemudahan. Oleh karena itu ketika menghadapi situasi sulit, saya selalu berusaha tersenyum dan bersyukur, sebentar lagi kemudahan akan datang bagi diri Saya.

Hal-hal tersebut diatas adalah beberapa hal yang perlu Anda persiapkan, sebelum benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang wirausahawan.

Salam!

Sabtu, 30 Januari 2016

Papan Tulis



Papan tulis ini punya cerita.
Papan tulis lipat ini saya beli ketika saya sedang belajar memulai usaha pertama saya, sebuah bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang berasal dari Amerika Serikat di tahun 2000-an.
Motivasi saya ketika itu sederhana.
Dengan papan tulis lipat ini saya bisa melakukan presentasi di mana-mana, tanpa merepotkan si pemilik tempat atau pemilik ruang tamu.
Ya, MLM adalah bisnis pertama, tempat saya belajar tentang semangat dan nilai kewirausahaan. Peluang bisnis yang saya dapat dari salah seorang teman dekat ketika duduk di bangku SMA.

Papan tulis ini cukup lama tersimpan di gudang, dalam kondisi yang sangat baik. Papan tulis ini adalah salah satu memorabilia perjalanan hidup saya yang amat senang bermimpi besar. Terpleset dan jatuh adalah hal yang biasa dalam prosesnya. Satu hal yang terpenting yang saya pelajari adalah bangkit kembali dan mencoba lagi sampai berhasil.

Alhamdulillah...
Sampai titik ini, saya berhasil.
Berhasil menaklukkan keraguan dan ketakutan saya.
Berhasil memperoleh keyakinan dan kepercayaan diri bahwa saya mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Berhasil meyakinkan pasangan bahwa saya mampu memimpin keluarga menuju masa depan yang lebih baik.

Insya Allah.

Papan tulis ini memiliki nilai emosional yang mendalam untuk diri saya.
Jangan pernah sia-siakan apapun yang anda miliki saat ini.
Perbanyak bersyukur dan berbagi dengan orang lain.
Insya Allah akan mendatangkan manfaat.

Salam!

Video Blog Perdana

Video Blog, disingkat VLOG, kata wiki definisinya kira-kira seperti ini:
A video blog or video log, usually shortened to vlog[1] /ˈvlɒɡ/, is a form of blog for which the medium is video,[2] and is a form of web television. Vlog entries often combine embedded video (or a video link) with supporting text, images, and other metadata. Entries can be recorded in one take or cut into multiple parts. The vlog category is popular on YouTube.

Nah karena sekarang lagi marak, maka bolehlah saya mencoba membuat Vlog versi saya sendiri. Kebetulan di notebook saya sudah ada camera-nya, sudah ada software recordernya, selanjutnya tinggal keputusan untuk mencoba membuat rekaman video diri sendiri. Soal materi sebenarnya bukan hal yang sulit untuk dipersiapkan karena untuk menyusun teks-nya kita bisa googling sana-sini untuk mendapatkan informasinya.

Nah di Vlog perdana saya ini, saya mencoba membuat sebuah video promosi ala motivator kelas atas gitu. Hanya saja, harus diakui bahwa berbicara di depan kamera itu memang perlu skill tertentu seperti, tatapan mata kita harus selalu menatap ke kamera, disamping otak kita juga harus ingat dengan pesan yang hendak kita sampaikan. Jadi mohon maaf kalau di video perdana ini, kualitasnya masih jauh dari sempurna.

Satu hal yang saya suka tentang Vlog adalah kita diberi ruang kreativitas dalam durasi beberapa menit untuk menyampaikan suatu pesan apapun, dengan harapan audience kita akan tertarik menonton nantinya. Saya cukup semangat kali ini karena saya membuat video perdana ini di salah satu sudut warung indomie yang lagi ngehits di kota Bandung. Saya mendapati tata cahaya dan latar belakang cukup baik untuk direkam.

Oke, tidak perlu berlama-lama lagi. Silakan Anda tonton Vlog perdana saya ini.


Jika Anda tertarik dengan apa yang saya sampaikan di video ini, silakan klik link berikut:
http://masjawski.com
Untuk informasi lebih lanjut.

Salam!