Tampilkan postingan dengan label #Karir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Karir. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Maret 2016

Bantu Anak Raih Cita-cita

Jika diingat kembali, dulu ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kita sering kali diarahkan oleh kedua orang tua kita untuk rajin belajar, agar mendapat nilai yang baik di sekolah. Saya ingat, saya merasa jarang ditanya apa yang saya suka dari pelajaran di sekolah. Orang tua selalu menuntut kita untuk mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran.

Beruntung kemudian saya belajar Psikologi. Setelah belajar Psikologi saya semakin memahami bahwa setiap manusia itu unik, bahkan untuk sepasang anak kembar identik sekalipun. Keunikan ini lah yang menjadi dasar saya untuk tidak memberikan pendekatan yang sama terhadap anak-anak saya kelak.

Saya akan perhatikan betul apa yang menjadi minatnya, dan saya akan memberikan dorongan lebih di area yang mereka minati. Tujuan saya sederhana, meningkatkan level kebahagiaan mereka dalam melakukan sesuatu yang mereka minati, dan menurunkan level stres-nya dengan harapan hasil karya mereka optimal.

Diskusi ini akan lebih luas terkait dengan rencana pendidikan mereka di masa depan. Satu hal yang terpikir oleh saya saat ini adalah saya akan tanyakan betul apa yang menjadi cita-cita anak saya, apa yang ingin mereka lakukan, bidang profesi apa yang mereka sukai dan ingin dikuasai. Saya tidak akan pernah memaksakan mereka untuk menyenyam bangku kuliah jika memang mereka tidak membutuhkannya.

Wow terdengar ekstrim ya. Wait, nanti dulu, begini penjelasannya. Saat ini anak sulung saya masih duduk di bangku SD kelas 3, masih ada waktu sekitar 9 tahun lagi hingga dia lulus SMA. Saya akan pastikan terlebih dahulu apa yang mau dia lakukan selepas SMA nanti. Menjadi seorang entrepreneur, Dokter, Psikolog, Arsitek atau apa?

Jika dia menginginkan untuk menjadi seorang Entrepreneur, maka selepas SMA nanti dia akan saya arahkan untuk langsung terjun ke dunia wirausaha, tanpa perlu sekolah terlalu tinggi di awalnya. Bayangan saya, 5 tahun setelah itu dia bisa mencapai kesuksesan usahanya, yang berarti usianya masih 22 tahun. Disini, jika dia mau kuliah, usianya masih relatif muda dan secara finansial dia sudah relatif mapan. ^_^

Alternatif lain, jika ingin menjadi seorang profesional (Arsitek, Dokter, Psikolog, dll) maka saya akan arahkan dia untuk masuk perguruan tinggi terbaik yang sesuai dengan minatnya. Selesaikan Strata 1, Strata 2, Strata 3 baru kemudian mengabdi kepada masyarakat. Mungkin pertanyaannya adalah si anak hidup, uangnya dari mana, kok sekolah terus. Jawaban saya sederhana, rejeki dari Allah.

Kira-kira demikian yang ingin saya lakukan kelak dalam membantu anak-anak meraih cita-citanya.

Salam!


HashOcean

Rabu, 24 Februari 2016

Jenjang Karir Pilihan

Dulu ketika baru masuk dunia kerja, saya sangat peduli dengan yang namanya jenjang karir. Saya berusaha keras untuk mendapatkan informasi yang benar tentang jenjang karir yang mungkin saya daki, di tempat saya bekerja.

Jenjang karir yang saya lihat dan pahami secara sederhana saat itu adalah sebagai berikut:
Kita bergabung sebagai entry level staf / Officer.
Lalu naik ke level Supervisor
Lalu naik ke level Manager
Lalu naik ke level Director

Namun pada kenyataannya bisa terlihat seperti ini:
Junior Officer - Officer - Senior Officer - Asisstant Manager - Deputy Manager - Manager - Senior Manager - Deputy Assistant General Manager - Assistant General Manager - General Manager - Senior General Manager - Deputy Director - Director - President Director

Weh... cukup panjang juga ya jenjang yang harus saya lalui, jika saya bekerja dominan menggunakan otak kiri saya. Bisa pembaca bayangkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mencapai puncak jenjang karir tersebut, yang sama-sama kita ketahui, tidak banyak orang bisa duduk di sana, mengingat bentuk strukturnya yang piramida.



Saya mengamati masih banyak orang yang bekerja dominan menggunakan otak kiri, dan mau mengikuti jenjang karir yang disediakan oleh perusahaan tempatnya bekerja. Tidak salah dengan itu, namun demikian tidak ada salahnya pula bagi seseorang untuk belajar mengoptimalkan otak kanannya dalam bekerja.

Namun apa yang terjadi ketika saya bekerja dominan menggunakan otak kanan? Mau tahu? Jenjang karir saya berubah menjadi seperti ini:
Owner / Founder.
Jenjangnya menjadi singkat. ^_^

Perbedaannya di jenjang karir yang pertama, saya relatif masih pasif, menerima apa yang diberikan oleh perusahaan tempat saya bekerja, sedangkan di jenjang karir kedua, saya jauh lebih aktif dan kreatif.

Jenjang karir mana yang Anda pilih?
Semua terserah Anda karena hidup ini adalah perpindahan dari satu pilihan ke pilihan yang lain.

Salam!


HashOcean